SLEMAN – Destinasi Gubug Merapi di lereng Gunung Merapi Tunggularum, Wonokerto, Turi kini tengah naik daun dan menjadi magnet wisatawan di Sleman. Destinasi ini mampu menarik wisatawan asing, karena memiliki daya tarik menawarkan pemandangan melihat lelehan lahar Gunung Merapi.
Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman Kus Endarto mengatakan, waktu terbaik untuk melihatnya adalah pada Juni, Juli, dan Agustus ini karena cuaca yang cerah. "Di sana kami sangat-sangat takjub dan Merapi ini jadi spot yang menarik," katanya, Minggu (14/6/2026).
Kus menjelaskan, meski total kunjungan tak begitu signifikanm, namun karena destinasi ini mampu menarik minat 80 persen wisatawan asing dari sekitar 500 orang yang datang. Mereka berasal dari berbagai negara. Mulai dari China 60 persen, Eropa 35 persen, Asia 2,5 persen, dan Amerika 1,5 persen.
Baca Juga: Sistem TKA Mirip NEM, namun Bukan Satu-satunya Penentu Masuk Sekolah Favorit
Menurut Kus, para wisatawan ini tidak turun dari Yogyakarta International Airport (YIA) di Kulon Progo. Meraka justru mendarat dari Jakarta, Solo, hingga Semarang. Kemudian menginap di wilayah DIJ dan memilih Gubug Merapi sebagai salah satu destinasi tujuan.
Kus menegaskan, dalam pengembangan destinasi ini akan dilakukan koordinasi intensif dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) maupun Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG).
Hal ini kaitannya untuk memastikan keamaan kondisi Merapi. Dia tidak ingin tujuan wisata yang bagus justru rusak karena kejadian luar biasa hingga akhirnya jadi ditinggalkan. Baginya, membuat wisatawan datang mudah, tetapi untuk bisa mempertahankannya adalah hal yang sulit.
Baca Juga: Baliho PB XIV Hangabehi Bermunculan di Kebumen, Pakasa Sebut Tegak Lurus
"Harapan kami tentu wisatawan bisa lebih meningkat dan lebih banyak lagi. Ini target promosi kami di masa-masa mendatang," tambahnya.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sleman Bambang Kuntoro menyebut, saat ini Gunung Merapi masih berada pada level tiga atau siaga. Aktivitas gunung juga masih tinggi dilihat dari skala awan panas gugurannya.
"Tentu masyarakat diimbau tidak memasuki zona terlarang yang telah ditetapkan oleh BPPTKG," katanya. (del/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita