Desa Ekowisata Pampang di Kapanewon Paliyan, Gunungkidul terus berbenah untuk memperkuat daya tarik wisata berbasis alam dan pemberdayaan masyarakat. Sejak berdiri pada 2017, kawasan ini dikembangkan sebagai destinasi yang menggabungkan potensi lingkungan, budaya, pertanian, hingga ekonomi kerakyatan.
Lurah Pampang Saiful Khohar mengatakan, saat ini pemerintah kalurahan bersama masyarakat tengah menambah sejumlah fasilitas penunjang agar desa wisata tersebut semakin diminati wisatawan. Pengembangan dilakukan tanpa meninggalkan karakter asli pedesaan yang menjadi daya tarik utama kawasan tersebut.
“Konsepnya masyarakat diberi kebebasan mengelola potensi desa sesuai keaslian wilayah. Jadi wisata berkembang, tapi identitas desa tetap terjaga,” ujarnya saat ditemui di Balai Kalurahan, Jumat (17/4).
Menurut dia, Desa Ekowisata Pampang dibangun dengan pendekatan pro-poor tourism, yakni pariwisata yang memberikan dampak langsung bagi peningkatan kesejahteraan warga.
Melalui kegiatan wisata, masyarakat mendapat peluang usaha, ruang partisipasi, serta akses ekonomi yang lebih luas. “Wisata ini sangat berpengaruh terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat karena warga ikut terlibat langsung,” katanya.
Saiful menjelaskan, desa tersebut memiliki beragam potensi unggulan. Di antaranya kerajinan perak, konservasi burung, rumah jamu herbal Pandowo, Taman Bendowo, kuliner tradisional, hingga wisata edukasi berbasis lingkungan. Selain itu tersedia taman bacaan masyarakat yang bisa dimanfaatkan warga maupun wisatawan.
Salah satu paket favorit wisatawan adalah susur sungai atau river tubing. Pengunjung diajak menyusuri aliran sungai menggunakan ban pelampung. Paket wisata itu dibanderol cukup terjangkau, yakni sekitar Rp 45 ribu termasuk makan siang. “Harga paket kami buat ramah wisatawan. Harapannya semua kalangan bisa menikmati,” jelasnya.
Tak hanya wisata sungai, Desa Ekowisata Pampang juga dikenal sebagai kawasan konservasi burung, wisata agro, outbond, fun game, camping ground, hingga tradisi budaya seperti rasulan. Namun, ikon yang kini mulai banyak menarik perhatian adalah kebun semangka yang dikelola petani milenial. Hamparan kebun semangka menjadi daya tarik tersendiri karena wisatawan bisa memetik langsung buah dari lahan pertanian sambil menikmati suasana pedesaan.
“Pengunjung bisa menikmati semangka segar langsung dari kebun. Ini menjadi pengalaman berbeda,” ungkap Saiful.
Ia menambahkan, para petani muda di Pampang mulai menerapkan konsep pertanian ramah lingkungan. Mulai dari pola tanam bergilir, penggunaan pupuk organik, hingga sistem irigasi tetes yang dinilai lebih hemat air dan mengurangi erosi tanah.
Selain menjaga lingkungan, para petani milenial juga dilibatkan dalam pengembangan sektor wisata desa. Warga mendapatkan pelatihan pengelolaan destinasi hingga pengembangan produk UMKM agar manfaat ekonomi dirasakan lebih luas. Untuk menghadapi persaingan antar destinasi wisata, Saiful berharap dukungan pemerintah terus ditingkatkan, baik melalui pembangunan infrastruktur, promosi, maupun fasilitasi pengembangan sumber daya manusia.
“Kalau semua pihak bergerak bersama, kami optimistis Desa Ekowisata Pampang bisa menjadi destinasi unggulan di Gunungkidul,” tandasnya. (bas/pra)
Editor : Heru Pratomo