Udara yang sejuk di Bukit Rhema menyambut setiap langkah pengunjung yang mendaki jalur curam menuju bangunan yang berbentuk burung raksasa. Dari jarak jauh, bentuknya terlihat jelas dan mencolok di tengah hutan hijau di Magelang.
Orang-orang sekitar mengenal bangunan ini sebagai Gereja Ayam, meskipun sebenarnya tempat tersebut bukan merupakan gereja.
Cerita tentang bangunan ikonik ini dimulai pada tahun 1988. Pada masa itu, wilayah Bukit Rhema masih terdiri dari hutan yang sangat rapat.
Pembangunan dimulai tahun 1992, dengan upacara peletakan batu pertama yang dihadiri oleh warga sekitar. Pembangunan dilakukan dengan gotong royong dan secara manual.
Jalan kecil yang kini digunakan pengunjung dulu hanyalah jalur tanah yang menanjak. Namun, krisis moneter tahun 1998 menyebabkan pembangunan terhenti. Bangunan belum selesai sepenuhnya. Pada masa itu muncul kesalahpahaman yang akhirnya menyebabkan bangunan dikenal sebagai "Gereja Ayam".
Burung yang dimaksud adalah burung merpati putih dengan kepala merah, yang melambangkan ketulusan, cinta, dan perdamaian. Namun, nama Gereja Ayam tetap digunakan hingga saat ini sebagai identitas wisata, bahkan di peta digital.
Bangunan ini terletak di atas Bukit Rhema, yang artinya firman Tuhan yang hidup. Di dalam bangunan ini terdapat beberapa ruangan untuk berdoa, yaitu ruang doa bagi umat Muslim, Kristen, Hindu, dan Buddha.
Ruang doa untuk agama Hindu dan Buddha masih dalam proses penyempurnaan. Pengunjung juga bisa menulis doa atau harapan mereka di dinding harapan. Setiap minggu, tulisan-tulisan itu dikumpulkan dan didoakan oleh tim khusus.
Gereja Ayam kembali mendapat perhatian banyak orang pada tahun 2014, ketika dipakai sebagai lokasi syuting film Ada Apa dengan Cinta 2. Adegan yang melibatkan Dian Sastro dan Nicholas Saputra di mahkota burung membuat tempat ini menjadi viral.
Dari atas puncaknya, pengunjung bisa melihat Candi Borobudur dan bayangan Gunung Merapi, Merbabu, Sumbing, serta Sindoro apabila cuacanya baik. Mulai saat itu, warga sekitar mulai merasakan dampaknya. Ibu-ibu desa diberdayakan untuk membuat makanan berupa singkong goreng khas yang kini menjadi bagian dari harga tiket masuk.
Bangunan ini sering digunakan untuk acara internasional dan pertunjukan seni, meski sejak pandemi jumlah acara tersebut berkurang. Pada hari biasa, jumlah pengunjung berkisar antara 200 hingga 300 orang.
Saat musim liburan, seperti Natal, Tahun Baru, atau Lebaran, jumlah pengunjung bisa bertambah hingga ribuan. Namun, di tahun ini jumlah pengunjung belum meningkat seperti tahun lalu.
Pengunjung datang dari berbagai latar belakang, seperti Muslim, Kristen, hingga wisatawan dari China dan negara-negara lain.
Gereja Ayam bukan hanya tempat wisata biasa. Ia juga menjadi simbol perjalanan spiritual, toleransi, dan kerja sama antarumat beragama.
Dari doa yang diucapkan sendirian di tengah hutan, bangunan ini tumbuh menjadi tempat pertemuan antar iman, di mana orang-orang datang bukan hanya untuk berfoto, tetapi juga menulis doa dan harapan mereka di dinding yang diyakini mampu memberi berkat.
Penulis: Ocha
Editor : Bahana.