Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Makam Raja Kotagede: Jejak Agung Mataram Islam yang Tetap Hidup

Magang Radar Jogja • Senin, 17 November 2025 | 21:45 WIB

Gerbang Kompleks Makam Raja Mataram
Gerbang Kompleks Makam Raja Mataram
RADAR JOGJA - Kotagede merupakan kawasan di Yogyakarta yang sampai saat ini masih menyimpan banyak jejak sejarah, terutama peninggalan Kerajaan Mataram Islam.

Di wilayah ini terdapat kompleks pemakaman para raja Mataram Islam yang sering dikenal sebagai Makam Raja Kotagede atau Pasarean Hastana Kitha Ageng.

Area ini terletak di sisi barat Masjid Gedhe Mataram Kotagede, yang dulu menjadi pusat kegiatan Kerajaan Mataram Islam.

Pemakaman ini dibangun oleh Panembahan Senopati, Raja pertama Mataram Islam. Raja yang memiliki nama asli Danang Sutawijaya, dimakamkan di tempat ini.

Selain itu, raja kedua Mataram Islam, Mas Jolang atau Panembahan Hanyakrawati, juga disemayamkan di lokasi yang sama.

Kompleks pemakaman ini juga tempat disemayamkannya ayah dari Panembahan Senopati, Ki Ageng Pemanahan, serta Sultan Hadiwijaya atau Joko Tingkir, penguasa Kerajaan Pajang yang turut disemayamkan di kompleks pemakaman bersejarah itu.

Makam Raja Kotagede menjadi saksi penting perjalanan sejarah kerajaan-kerajaan besar di pulau Jawa.

Keberadaan kompleks Makam Raja Kotagede tidak bisa dipisahkan dari sejarah awal berdirinya Kerajaan Mataram Islam dan perjalanan hidup Panembahan Senopati.

Setelah Arya Penangsang berhasil di tumbangkan, Sultan Hadiwijaya memberikan Alas Mentaok kepada Ki Ageng Pemanahan sebagai bentuk penghargaan.

Beliau dengan keluarganya pindah ke wilayah tersebut bersama dengan keluarga dan pengikutnya, membuka hutan dan membangun pemungkiman yang kini menjadi Kotagede.

Setelah Ki Ageng Pemanahan mangkat, Pangeran Benowo memberikan izin kepada Danang Sutawijaya untuk melepaskan diri dari Pajang dan mendirikan kerajaan baru.

Dari sinilah Kerajaan Mataram Islam lahir dan Sutawijaya mengangkat dirinya sebagai penguasa pertama dengan gelar Panembahan senopati.

Ia mulai membangun Kompleks Makam Raja Mataram di sisi barat Masjid Gedhe Mataram Kotagede, dengan menghabiskan waktu pembangunan dari tahun 1589 dan selesai tahun 1606.

Di dalam kompleks tersebut, terdapat tiga bangunan utama berupa cungkup yang menjadi pelindung makam para tokoh penting Mataram.

Ketiga cungkup ini adalah Bangsal Prabayaksa, Bangsal Witana, dan Bangsal Tajug.

Hingga saat terjadi kebakaran yang menyebabkan kerusakan pada kompleks makam, Sunan Pakubuwana X memerintahkan renovasi dengan menggunakan material dan gaya arsitektur pada zamannya.

Kompleks Makam Raja Kotagede ini berada sekitar 100 meter dari Pasar Kotagede, dengan dikelilingi tembok besar yang kokoh.

Pintu masuknya berupa gapura bergaya hindu, lengkap dengan ukiran-ukiran indah pada kusennya.

Di sisi depan berdiri Masjid Gedhe Mataram yang menjadi jalur menuju kompleks makam.

Untuk mencapai bangunan utama, penunjung harus melewati tiga gapura kayu terbal berukir.

Di samping kompleks makam, terdapat sendang atau pemandian yang dibangun oleh Ki Ageng Pemanahan dan Panembahan Senopati.

Pemandian ini terbagi menjadi area khusus laki-laki dan perempuan. Tempat ini tidak hanya menjadi situs sejarah, tetapi juga simbol perjalanan panjang kerajaan yang pernah berjaya di tanah Jawa.

Kompleks Makam Raja Kotagede memiliki sejumlah aturan yang wajib dipatuhi bagi para peziarah.

Bagi perempuan, diwajibkan mengenakan kain jarik hingga sebatas dada atau kemben, serta tidak diperbolehkan memakai kerudung atau penutup kepala.

Sementara peziarah laki-laki harus mengenakan jarik dengan atasan berupa baju peranakan.

Kedua jenis pakaian ini merupakan busana khas abdi dalem yang memang ditetapkan sebagai aturan berziarah di kawasan ini.

Selain itu, pengunjung tidak diperbolehkan mengambil foto atau merekam gambar selama berada di dalam area makam.

Saat memasuki kompleks, setiap pengunjung juga harus melepaskan alas kaki sebagai bentuk penghormatan.

Jika Anda ingin memahami Yogyakarta dari akarnya, Kotagede adalah salah satu pintu terbaik untuk menelusurinya.

Penulis: Alif Rizki Wahyu N K

Editor : Bahana.
#Makam Raja #Mataram Islam #kotagede