Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Menyelami Sejarah dan Keanggunan Tradisi Jawa di Museum Ullen Sentalu

Magang Radar Jogja • Sabtu, 15 November 2025 | 19:08 WIB
Ullen Sentalu.
Ullen Sentalu.

RADAR JOGJA - Museum Ullen Sentalu diresmikan oleh Gubernur Yogyakarta Sri Paduka Paku Alam VIII pada tanggal 1 Maret 1997.

Ullen Sentalu merupakan akronim dari bahasa Jawa, yaitu “ulateng blencong sejatine tataraning lumaku” yang berarti Terang adalah penuntun jalan kehidupan.

Museum ini berada di dalam Taman Kaswargan, Kaliurang, Hargobinangun, Pakem, Sleman.

Museum Ullen Sentalu merupakan museum yang unik, museum ini tidak dioperasikan institusi melainkan sebuah perusahaan yang beroprasi di bawah naungan Yayasan Ulating Blencong.

Ullen Sentalu menjadi jembatan tantangan proses budaya masa kini melalui memori kolektif, yang mana hal ini menjadi identitas budaya bangsa.

Museum Ullen Sentalu memiliki visi dan misi untuk merajut benang merah melalui rekonstruksi peradaban dan sejarah Jawa.

Mengumpulkan, megkomunikasikan serta melestarikan warisan seni dan budaya Jawa yang terancam pudar, juga berguna untuk menumbuhkan kebanggaan masyarakat pada kekayaan budaya Jawa.

Koleksi-koleksi dari Museum ini tidak diberi label, jadi hanya menggunakan penjelasan tour guide untuk menjelaskan semua yang ada di sana.

Beberapa ruangan yang ada di Museum Sentalu, sebagai berikut;

1. Ruang selamat datang, merupakan ruang penyambutan tamu/pengunjung.

2. Ruang Seni Tari dan Gamelan, berisi seperangkat gamelan yang diberi dari seorang Ppangeran Kasultanan Yogyakarta.

3. Ruang Guwa Aela Giri, ruangan yang dibangun di bawah tanah, berisi pameran karya-karya lukis, dokumentasi tokoh-tokoh Dinasti Mataram.

4. Ruang Syair, menampilkan syair-syair yang ditulis oleh kerabat dan teman-temanGRAj Koes Sapariyam pada tahun 1939-1947.

5. Royal Room Ratu Mas, ruangan yang dipersembahkan untuk permaisuri Sunan Paku Buwana X.

6. Ruang Batik Vorstendlanden, menampilkan koleksi batik.

7. Ruang Batik Pesisiran, berisi koleksi kain batik.

8. Ruang Putri Dambaan, menampilkan koleksi foto pribadi putri tunggal Mangkunegara VII dari kecil hingga menikah.

9. Sasana Sekar Bawana, berisi beberapa lukisan raja Mataram.


Para wisatawan tidak hanya dapat melihat isi dari museum ini, tetapi juga dapat menikmati suasana alam, karena museum ini terletak di bawah lereng Gunung Merapi.

Filosofi makna Ullen Sentalu


Arsitektur Museum, Pembangunan awal kompleks museum digagas oleh arsitektur bangunan KP DR Samuel Wedyadiningrat, DSB KONK.

Setiap bangunan yang berdiri diberi konsep “in the field architecture concept” yang diartikan arsitektur setiap bangunan didesign dan digarap langsung di lapangan.

Setiap bangunan harus berdiri sesuai dengan letak tanah dan alamnya, karena itu bangunan akan dibuat mengikuti harmonisasi dari bangunan sebelumnya.

Dengan prinsip “Harmonisasi Alam dan Ekologi Lingkungan” yang merupakan hal mutlak bagi pembangunan Muesum Ullen Sentalu.

Baca Juga: Lionel Messi Cetak Satu Gol dan Assist dalam Kemenangan Argentina atas Angola di Laga Persahabatan

Gaya arsitektur kompleks Museum Ullen Sentalu merupakan perwujudan dari kekayaan budaya Jawa dalam nuansa kolonial di Kaliurang yang identik dengan alam, hutan dan gunung.

Konsep dari museum ini adalah Jendela. Karya-karya di museum banyak yang diwakili oleh tokoh wanita Jawa, para permaisuri dan putri dari dinasti Mataram.

Budaya Jawa memposisikan wanita sebagai “konco wingking” sehingga pada masa Dinasti Mataram sangatlah sulit untuk melihat kehidupan para putri yang berada di dalam keraton.

Wanita jawa dicap menjadi wanita perkasa, melalui peranan sebagai konco wingking, hal itu menjadi faktor penentu tataan kehidupan politik dan budaya.

Dari balik tembok Kraton proses kebudayaan Jawa yang sangat kaya tercipta.

Museum mengambil peran wanita sebagai jendela untuk memasuki perjalanan panjang dar proses sejarah, budaya, dan seni Jawa.

Museum menekankan aspek edukatif tanpa mengabaikan sisi hiburan, agar tetap menarik sekaligus mendidik.

Konsep ini diterapkan untuk mencegah generasi muda melupakan budaya dan sejarah bangsanya. (Priskila)



Editor : Meitika Candra Lantiva
#Sri Paduka Paku Alam VIII #Ullen Sentalu #Yayasan Ulating Blencong #sejarah #Tradisi Jawa