BANTUL - Karakter wisatawan mancanegara (wisman) yang berkunjung ke Kabupaten Bantul cenderung berbeda dengan wisatawan domestik. Mereka tidak hanya ingin melihat objek wisata, namun lebih menyukai wisata berbasis pengalaman (experiential tourism).
“Rata-rata wisatawan mancanegara itu bukan hanya datang untuk melihat. Mereka lebih banyak pada pengalaman yang bisa didapat,” beber Subkoordinator Kelompok Substansi Promosi Kepariwisataan Dinas Pariwisata (Dispar) Bantul Markus Purnomo Adi Selasa (11/11).
“Misalnya di desa wisata yang tercatat hanya lima orang reservasi, kenyataannya bisa sampai 50. Yang 45 ini tidak tercatat lewat reservasi,” terangnya.
Menurut Markus, pola kunjungan wisman kini lebih menyebar. Mereka banyak memilih aktivitas berbasis pengalaman langsung. Contohnya saat musim tukik di kawasan Pantai Gua Cemara.
Sedangkan di Baros, mereka memilih paket menanam mangrove. Bahkan kelompok mahasiswa asing pun ikut terlibat. “Yang mereka cari itu experience. Jarang yang hanya datang kemudian duduk menonton ombak,” jelasnya.
Selain itu, desa wisata juga menjadi ruang bagi wisatawan mancanegara untuk mendapatkan interaksi dengan warga. Mereka lebih senang tinggal di homestay dibanding hotel. Karena ingin merasakan suasana hidup dengan masyarakat lokal. “Tetapi tetap ada standar minimal, misalnya fasilitas kamar mandi yang sesuai kebiasaan mereka,” tuturnya.
Editor : Sevtia Eka Novarita