Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Telaga yang Tak Sekadar Air: Pergulatan Warga Trowono Menjaga Napas Alam

Yusuf Bastiar • Sabtu, 1 November 2025 | 02:45 WIB

Warga Trowono sedang membersihkan Telaga Boromo pada Jumat pagi (31/10).
Warga Trowono sedang membersihkan Telaga Boromo pada Jumat pagi (31/10).
GUNUNGKIDUL - Pagi itu, kabut masih menggantung tipis di atas perbukitan kapur Paliyan setelah semalaman diguyur hujan.

Di bawah langit Gunungkidul yang pucat, sekelompok warga Padukuhan Trowono A berjalan beriringan menuju sebuah genangan air tenang di Telaga Boromo pada Jumat pagi, (31/10).

Mereka membawa celurit, cangkul, sapu lidi, serok, dan ember plastik. Di pinggir telaga, daun kering yang gugur semalaman bertebaran di antara rumput liar.

Bagi mereka, pagi ini bukan sekadar kerja bakti. Ini ritual penghormatan kepada alam.

Sebuah laku hidup tahunan yang disebut Bersih Tlogo, tradisi turun-temurun yang diwariskan sejak masa nenek moyang. Telaga bagi warga Trowono bukan hanya air. Ia adalah sumber kehidupan, cermin masa lalu, sekaligus penanda perubahan zaman.

“Ya hari ini kami melakukan Bersih Telaga sebagai bentuk penghormatan kepada alam,” ujar Supomo, lelaki 60 tahun yang sejak kecil tumbuh di tepian telaga itu.

Supomo masih ingat masa kecilnya di akhir 1970-an. Saat itu, setiap pagi Telaga Boromo selalu ramai.

Warga berdatangan membawa jerigen, ember, dan pikulan bambu. Mereka antre mengambil air untuk memasak, mandi, hingga memberi minum ternak.

Di bawah terik matahari karst yang keras, air telaga menjadi satu-satunya penawar dahaga.

Sembari menunjuk air berwarna coklat, Supomo masih mengingat betul tak pernah ada catatan warga sakit diare karena mengkonsumsi air telaga.

“Sebelum PDAM masuk, ya hidup warga itu tergantung telaga. Tapi nggak ada yang sakit, nggak ada yang keracunan. Airnya bening, sejuk, dan bersih,” kenangnya sambil memungut daun kering dari permukaan air.

Bahkan, di masa itu, beberapa orang menggantungkan hidupnya dengan menjual air telaga. Air diangkut dengan ember, dipikul, dan dijajakan ke desa tetangga.

Telaga menjadi denyut ekonomi rakyat kecil di tengah tanah tandus Gunungkidul.

Namun, segalanya berubah ketika pipa PDAM mulai menjangkau padukuhan pada awal 1980-an.

Air bersih kini mengalir ke rumah-rumah, dan pelan-pelan, warga berhenti datang ke telaga. Alih fungsi itu, bagi sebagian orang, adalah tanda kemajuan. Tapi bagi yang lain, seperti Supomo, itu adalah isyarat kehilangan.

“Sekarang jarang yang ke sini. Telaga jadi sepi. Lalu sebagian warga mulai manfaatkan untuk budidaya ikan. Dulu tempat orang mandi dan mencuci, sekarang tempat orang memancing,” ujar Supomo.

Perubahan fungsi telaga tidak hanya mengubah pemandangan, tapi juga menyentuh keseimbangan ekologi yang selama ini terjaga alami.

Lurah Karangasem Wage Dhaksinarga paham betul betapa rapuhnya sistem ekologi karst yang menopang kehidupan masyarakat.

Ia menolak gagasan revitalisasi telaga dengan cara modern yang hanya menambal persoalan di permukaan.

“Pernah ada rencana telaga mau dikeruk dan dipasangi membran plastik biar airnya nggak cepat susut. Tapi kami tolak,” tegasnya. “Itu bukan solusi, itu cuma cara cepat yang mengabaikan ekologi.”

Wage lalu bercerita tentang bagaimana telaga zaman dulu memiliki daya serap alami.

Ketika warga memandikan sapi di telaga, kotoran sapi atau yang mereka sebut teletong, jatuh dan mengendap di dasar air, membentuk lapisan alami yang menahan rembesan.

Berat tubuh sapi yang besar ikut memadatkan tanah, cerita Wage mampu menekan dasar telaga hingga menutup pori-pori tanah tanpa merusak struktur geologi.

“Itu membran alami, hasil dari siklus alam yang berpadu dengan aktivitas manusia,” jelasnya. “Sekarang, karena sapi sudah jarang dimandikan di telaga, fungsi itu hilang. Air cepat menyusut, dan dasar telaga cepat rusak.”

Ia menyebut, revitalisasi telaga seharusnya dilakukan bukan dengan alat berat atau plastik, melainkan dengan menghidupkan kembali aktivitas ekologis yang dulu ada, seperti menanam pohon beringin dan resan di sekitar telaga, serta mengembalikan interaksi manusia dan alam dalam keseimbangan yang wajar.

“Revitalisasi itu bukan mempercantik telaga untuk foto wisata, tapi menghidupkan kembali jantung ekologinya,” ujar Wage.

Kini, setiap mongso kapat, ketika musim kemarau beranjak pergi dan langit mulai menampung awan hujan pertama, warga Trowono kembali berkumpul di telaga.

Hari itu disebut Bersih Tlogo, digelar pada Jumat Legi atau Rabu Pon dalam penanggalan Jawa.

Mereka bergotong royong mengangkat sampah, menyiangi rumput, dan memanjatkan doa.

Tak ada pengeras suara, tak ada seremonial resmi. Hanya suara gemericik air dan tawa yang ikut bermain di tepian. (bas)

Editor : Bahana.
#Gunungkidul #telaga