Sejak berdirinya Jembatan Pandansimo, kawasan Muara Pandansimo menjadi destinasi wisata baru yang banyak digandrungi anak muda untuk berburu sunset di sore hari.
Tempat ini kini tak hanya menjadi titik temu aliran Sungai Progo dan Laut Selatan, tetapi juga ruang hidup bagi kegiatan konservasi dan wisata alam yang tumbuh dari inisiatif warga.
Pengelola wisata Muara Pandansimo Sukamto menceritakan, dulunya kawasan ini dikenal sebagai muara Progo, “Dulu itu memang muara Progo, aliran sungai Progo masuknya ke laut. Itu namanya kalau Jawa suangan, cuma secara kan jadi muara.”
Baca Juga: Antisipasi Kejadian Luar Biasa Penyakit Menular, Pemkot Jogja Kembangkan Sistem Peringatan Dini
Menurutnya, seiring berjalannya waktu, kesadaran lingkungan di kalangan anak muda sekitar mulai tumbuh. Seperti diadakannya penanaman mangrove dan pelepasan penyu di kawasan Muara Pandansimo. "Diharapkan bisa menjaga keseimbangan alam, karena mangrove itu macam-macam manfaatnya,” jelasnya.
Selain konservasi, kehadiran jembatan baru juga menjadi magnet tersendiri bagi pengunjung. Wisatawan dapat berswafoto dengan background Jembatan Pandansimo.
"Kalau menjelang malam lampu jembatannya menyala, itu kan buat foto bagus," katanya.
Aliran air dari Sungai Progo mengalir tenang menuju muara, diapit hamparan rumput luas yang kini menjadi spot favorit pengunjung untuk bersantai. Di area rumput itu pula sering terlihat kawanan domba milik warga yang sedang digembalakan.
Pemandangan sederhana tersebut justru sempat viral di media sosial dan kini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang datang untuk berfoto.
Tak hanya panorama darat, kawasan muara juga menghadirkan pesona wisata air. Ada pula nelayan dari arah Kulon Progo yang membawa tamu melintasi muara untuk menikmati suasana dari tengah air.
Bahkan, sejumlah pegiat olahraga air sempat mencoba potensi Muara Pandansimo untuk parasailing. Aktivitas tersebut menambah warna bagi kawasan muara yang perlahan tumbuh menjadi destinasi wisata alternatif di selatan Bantul.
Kapal-kapal yang terbengkalai pun kini menjadi spot foto favorit wisatawan. “Kapal itu buat foto-foto orang,” ujarnya.
Baca Juga: Kampus Terbengkalai di Parangtritis Jogja, Dari Pusat Ilmu Ekonomi Jadi Lokasi Angker
Saat ini fasilitas di kawasan Muara Pandansimo masih tergolong sederhana. Walaupun cukup sederhana, sudah ada beberapa kamar mandi, tempat duduk, dan warung-warung yang beroperasi umumnya berupa warung kaki lima.
Area parkir pun masih dikelola secara swadaya oleh kelompok pemuda setempat. Mereka menata kendaraan dan menarik iuran seikhlasnya dari pengunjung, karena pengelola belum berani menetapkan tarif resmi mengingat fasilitas yang tersedia masih terbatas.
Sementara itu, Sub Koordinator Kelompok Substansi Promosi Kepariwisataan Dinas Pariwisata (Dispar) Bantul Markus Purnomo Adi menjelaskan Muara Pandansimo sebenarnya sudah cukup lama dibuka menjadi destinasi wisata.
"Dulu mencapai ke sana bisa juga dengan perahu dari Dusun Babakan. Kemudian Karang Taruna Ngentak membuat jalan menuju muara," jelasnya.
Untuk pengembangan Muara Pandansimo, Dispar Bantul telah berdiskusi dengan Gubernur DIJ Hamengku Buwono X mencanangkan pengembangan wisata air dipadu dengan paralayang. "Untuk pengembangan lebih lanjut akan mengacu pada Ripparda Bantul yang saat ini memasuki tahap pembicaraan akhir," tuturnya. (cin/pra)
Editor : Heru Pratomo