Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Selter Kuliner Jadi Wajah Kota Magelang, Wali Kota Damar Soroti Ketertiban, Jam Operasional hingga Higienitas

Naila Nihayah • Rabu, 24 September 2025 | 10:30 WIB
WADUL: Puluhan perwakilan pedagang asongan di Candi Borobudur mengeluh kepada Gubernur Jateng Ganjar Pranowo soal larangan berjualan di zona 2.(Naila Nihayah/Radar Jogja)
WADUL: Puluhan perwakilan pedagang asongan di Candi Borobudur mengeluh kepada Gubernur Jateng Ganjar Pranowo soal larangan berjualan di zona 2.(Naila Nihayah/Radar Jogja)

 

MAGELANG – Wali Kota Magelang Damar Prasetyono memiliki perhatian khusus bagi UMKM dan pedagang kaki lima (PKL) di Kota Magelang. Terutama yang bergerak di bidang kuliner.

Dia menyebut, pemkot selama ini menata sejumlah lokasi strategis untuk menampung para pedagang. Seperti Jenggolo, Armada Estate, Sriwijaya, Badaan, Sigaluh, hingga Tuin van Java. Total ada ratusan unit yang diisi pelaku usaha kuliner maupun perdagangan.

Menurutnya, selter kuliner tersebut merupakan wajah kota. "Wisatawan pertama kali mengenal Magelang lewat kulinernya. Kalau tidak tertata, kotor, atau tidak nyaman, citra kota juga ikut turun," kata Damar, di Aula DPPKUM, Senin (22/9).

Dia mendorong UMKM dan PKL untuk naik kelas. Di balik cita-cita itu, pemkot masih ada pekerjaan rumah yang harus dibenahi bersama. Mulai dari ketertiban lokasi dan jam operasional, higienitas, hingga sertifikasi halal. Mengutip data BPS, sedikitnya ada 3.371 perusahaan mikro dan kecil beroperasi di Kota Magelang.

Dia menilai, UMKM dan PKL merupakan denyut nadi ekonomi masyarakat yang harus dijaga. "Tapi mereka juga perlu berbenah, agar bisa bersaing dan menembus pasar yang lebih luas," ujarnya

Kontribusi sektor ini terbukti nyata. Pada 2024 lalu, pertumbuhan ekonomi Kota Magelang mencapai 5,56 persen, sebagian besar ditopang oleh aktivitas perdagangan dan kuliner. Kendati begitu, tantangan besar masih membayangi.

Damar mengatakan, banyak PKL dan UMKM yang belum mampu mengoptimalkan pemasaran digital. Kemudian, masih minim akses permodalan hingga belum sepenuhnya menggunakan pembayaran nontunai seperti QRIS.

Dia pun menekankan lima hal utama bagi pelaku usaha. Yakni sertifikasi halal, standar kebersihan dan penyajian, lingkungan dagang yang sehat, pemanfaatan pemasaran digital, serta kolaborasi agar selter bisa berkembang menjadi destinasi kuliner representatif.

Kepala Dinas Perdagangan, Perindustrian, Koperasi, dan Usaha Mikro (DPPKUM) Kota Magelang Syaifullah menambahkan, keberadaan UMKM dan PKL bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga soal identitas. "Kami ingin mereka lebih tertib, higienis, dan akrab dengan teknologi. Kalau tidak sekarang, kapan lagi?" ucapnya. (aya/pra)

Editor : Heru Pratomo
#dAMAR PRASETYONO #higienitas #Kuliner #PKL #wajah kota #Selter Kuliner #Kota Magelang