BANTUL – Kampung Batik Giriloyo, Wukirsari merespons turunnya jumlah wisatawan akibat larangan study tour dari Jawa Barat dengan strategi baru. Alih-alih mengejar kuantitas, pengelola kini mengedepankan konsep quality tourism.
"Dulu sebulan bisa 9 ribu kunjungan, sekarang paling 1,7 ribuan setelah adanya larangan study tour," ujarnya saat ditemui di Kampung Batik Giriloyo, Wukirsari Rabu (17/9).
Ketua Kampung Batik Giriloyo, Wukirsari Nur Ahmadi menjelaskan, konsep quality tourism mendorong wisatawan untuk lebih lama tinggal di kawasan tersebut. Dengan begitu, meski jumlah wisatawan berkurang, pemasukan pengelola maupun masyarakat tetap terjaga.
“Kalau dulu kan masih mengandalkan wisatawan yang banyak. Tapi wisatawan yang banyak itu juga ada dampak negatifnya, seperti sampah dan bising,” tuturnya.
Kini, Kampung Batik Giriloyo, Wukirsari lebih menekankan penawaran paket wisata dengan durasi lebih panjang. Rata-rata paket berlangsung lima hari, bahkan bisa sampai seminggu.
Wisatawan diarahkan untuk mengikuti workshop membatik dari awal hingga akhir, diselingi kunjungan ke potensi lokal seperti wayang, Watu Gagak, dan destinasi lain.
“Kalau sehari, wisatawan hanya sempat membatik. Tapi kalau lama tinggal, banyak potensi Wukirsari yang terekspos,” katanya.
Paket panjang ini terbukti lebih menguntungkan. Misalnya, kata dia, wisatawan Jepang memilih tinggal tiga hari dua malam. Per orang rata-rata mengeluarkan Rp 500 ribu per hari. Dengan durasi panjang, nilai ekonomi yang masuk lebih besar dibanding kunjungan singkat ribuan wisatawan.
"Tapi kita sekarang juga masih menerima kunjungan wisatawan selama sehari," jelasnya.
Selain memperkuat konsep wisata, Kampung Batik Giriloyo, Wukirsari juga memastikan manfaat ekonomi dirasakan warga.
“Yang tidak membatik bisa menyiapkan makan minum, yang punya rumah bisa menyewakan homestay. Ekonomi warga ikut terangkat,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan (Disbud) Bantul Yanatun Yunadiana menegaskan, pelestarian sekaligus pemajuan kebudayaan di Kampung Batik Giriloyo, Wukirsari berjalan baik. Salah satunya melalui penetapan batik sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb).
"Diharapkan Kampung Batik Giriloyo, Wukirsari juga bisa mengangkat budaya-budaya sekitarnya," jelasnya.
Lanjutnya, mulai dari kerajinan keris dan maranggi atau warangka di Banyusumurup, wisata budaya religi makam raja-raja, hingga berbagai upacara adat istiadat yang masih lestari di tengah masyarakat pun ikut terjaga dan mendapatkan manfaatnya. (cin)
Editor : Sevtia Eka Novarita