GUNUNGKIDUL - Di tengah kesibukan dan tekanan hidup sehari-hari, masyarakat kini mulai mencari cara-cara sederhana untuk melepaskan penat. Tidak harus ke pantai atau mendaki gunung, ternyata healing juga bisa dilakukan di kebun melon.
Ya, di Mas Tani Farm, Padukuhan Besari, Kalurahan Siraman, Kapanewon Wonosari, pengunjung bisa merasakan pengalaman berbeda dengan cara memetik buah melon langsung dari pohonnya sambil belajar bagaimana cara budidayanya. Konsep wisata ini digagas oleh Fahid Nurrarrosyid, pengelola Green house Mas Tani Farm.
Awalnya, tempat ini hanya fokus pada budidaya melon hidroponik. Namun, antusiasme pengunjung yang datang bukan sekadar membeli buah, melainkan ingin ikut memetik, membuka ide untuk menjadikan kebun melon sebagai destinasi wisata edukatif.
“Orang kalau mau beli melon, mereka maunya metik sendiri. Jadi ke sini bukan cuma beli melon, tapi sekalian refreshing. Value-nya justru di situ, pengalaman memetik sendiri,” ujar Fahid ketika ditemui di green house miliknya pada Jumat, (22/7).
Berbeda dengan membeli melon di toko buah yang sekadar ambil dan timbang, di sini pengunjung diajak untuk terlibat langsung dalam proses panen. Ada sensasi tersendiri saat memegang buah yang masih menempel di pohon, memilih yang matang, lalu memotongnya sendiri. “Enggak cuma jual beli, tapi ada transfer pengetahuan. Enggak cuma masuk, ambil, timbang, gak kayak gitu. Ada cerita, ada pengalaman emosional. Bahkan banyak yang akhirnya jadi tahu cara budidayanya,” jelas Fahid.
Pengunjung yang datang biasanya akan diarahkan terlebih dahulu. Sebelum masuk ke green house, ada prosedur untuk menjaga sterilitas area agar tanaman tetap sehat. Setelah itu, pemandu menjelaskan cara memilih buah yang matang. Tanda paling mudah adalah daun tangkai yang sudah kering, umur tanam, dan aroma buah. Setelah menemukan buah idaman, pengunjung diajari cara memotong yang benar. “Kalau mau masa simpan lama, harus dipotong dengan teknik T. Jadi batang dan buah harus disisakan dua senti. Ini penting supaya buah tidak cepat busuk,” tambahnya.
Mas Tani Farm membudidayakan tiga jenis melon dengan karakteristik berbeda. Pertama, Kirani, produk lokal dengan rasa paling manis. Namun, jika terlalu matang, buah ini rentan pecah. Kedua, Kirin, varian impor dengan tekstur renyah dan manis stabil. Ketiga, Dalmaisen, melon asal Thailand yang punya tekstur renyah dan rasa manis mirip Kirani, tapi lebih tahan lama.
Setiap pengunjung punya favoritnya masing-masing. “Ada yang suka Kirani karena manisnya maksimal, ada juga yang pilih Kirin karena teksturnya lebih crunchy,” kata Fahid sambil tersenyum.
Hidroponik: Bertani ala Generasi Z
Hal unik lain yang menarik perhatian pengunjung adalah cara tanam melon di Mas Tani Farm. Banyak yang kaget ketika tahu tanaman ini tidak ditanam di tanah, melainkan menggunakan sistem hidroponik. Media tanamnya adalah arang sekam dan nutrisi cair yang dialirkan melalui pipa-pipa. Dari proses tanam hingga panen, butuh waktu sekitar 75 hari. Sistem ini dipilih bukan hanya karena lebih modern dan efisien, tetapi juga sebagai cara menarik minat anak muda terhadap pertanian.
“Banyak yang tanya, kok bisa hidup kalau gak pakai tanah? Nah, ini yang bikin mereka penasaran dan jadi bahan edukasi juga,” jelas Fahid.
Mas Tani Farm tidak berhenti pada konsep wisata petik buah. Ke depannya, tempat ini akan dikembangkan menjadi Sentra Ekonomi Pertanian Terpadu. Bukan hanya menjual buah, tapi juga menjual pengalaman mulai dari pelatihan, workshop budidaya hidroponik, hingga kelas manajemen pertanian modern. Lebih menarik, pengelolaan green house ini juga melibatkan Karang Taruna desa setempat.
Anak-anak muda diajak terlibat mulai dari proses tanam hingga pemasaran. Tak heran jika kebun melon ini kini menjadi salah satu destinasi wisata favorit bagi keluarga, komunitas, hingga pelajar yang ingin belajar tentang pertanian modern sambil menikmati suasana hijau yang menenangkan. “Kami ingin menciptakan regenerasi petani dengan cara yang lebih kekinian. Jadi mereka bukan cuma membantu, tapi belajar mengelola,” kata Fahid.
Wisata petik melon ala Mas Tani Farm menawarkan sesuatu yang jarang ditemukan di tempat lain: pengalaman memetik sendiri, edukasi budidaya, dan suasana green house yang asri. Bagi keluarga, ini bisa jadi aktivitas liburan edukatif. Bagi anak muda, ini adalah konten Instagramable sekaligus pengalaman baru. “Konsep ini bukan sekadar wisata, tapi gaya hidup baru. Orang butuh kembali ke alam, tapi tetap ingin nyaman dan dapat pengalaman berkesan,” tutur Fahid. (bas/pra)
Editor : Herpri Kartun