RADAR JOGJA - Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80, Yogyakarta kembali menjadi sorotan, bukan hanya sebagai kota pelajar, tetapi juga sebagai saksi sejarah perjuangan bangsa.
Berbagai landmark di kota ini menyimpan kisah heroik yang membentuk perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Mulai dari Monumen Jogja Kembali (Monjali), Benteng Vredeburg, Tugu Jogja, Gedung Agung, hingga Museum Sandi, masing-masing memiliki cerita yang erat kaitannya dengan perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Monumen Jogja Kembali (Monjali)
Monjali dibangun untuk mengenang peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949, saat Tentara Nasional Indonesia (TNI) di bawah pimpinan Letnan Kolonel Soeharto berhasil merebut Yogyakarta dari tangan Belanda selama enam jam.
Serangan ini menjadi bukti kepada dunia bahwa TNI masih utuh, terkoordinasi, dan setia pada Republik Indonesia.
Bangunan berbentuk kerucut ini melambangkan gunung sebagai simbol keramat dan sumber kehidupan.
Di dalamnya, pengunjung dapat melihat diorama perjuangan tentara dan rakyat dalam mempertahankan kemerdekaan.
Benteng Vredeburg
Awalnya dibangun sebagai markas militer Belanda pada abad ke-18, Benteng Vredeburg berubah fungsi menjadi pusat militer TNI setelah Proklamasi 1945.
Namun, pada Agresi Militer Belanda II tahun 1948, benteng ini kembali dikuasai Belanda dan digunakan sebagai markas pasukan serta penyimpanan peralatan tempur.
Dalam Serangan Umum 1 Maret 1949, benteng menjadi salah satu sasaran penting yang direbut TNI.
Kini, Benteng Vredeburg difungsikan sebagai museum yang memamerkan diorama perjuangan 1945–1949.
Tugu Jogja
Ikon Kota Yogyakarta ini didirikan pada 1755 oleh Sultan Hamengkubuwono I dan memiliki makna simbolis yang menghubungkan Laut Selatan, Keraton Yogyakarta, dan Gunung Merapi.
Gempa bumi pada 10 Juni 1867 meruntuhkan tugu, yang kemudian dibangun kembali pada 1889 dengan bentuk seperti saat ini.
Tugu Jogja bukan hanya titik simbolis “Garis Imajiner” kota, tetapi juga pernah menjadi tempat berkumpul para pejuang untuk berkoordinasi.
Gedung Agung
Gedung yang dibangun pada 1824 ini awalnya menjadi kediaman resmi Residen Yogyakarta.
Pada masa Agresi Militer Belanda, gedung ini berperan sebagai Istana Kepresidenan sementara ketika ibu kota negara dipindahkan ke Yogyakarta (1946–1949).
Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta memimpin pemerintahan dari gedung ini ketika Jakarta dikuasai Belanda.
Hingga kini, Gedung Agung tetap digunakan untuk acara kenegaraan.
Museum Sandi
Terletak di Kotabaru, Museum Sandi merupakan satu-satunya museum di Indonesia yang khusus mengangkat sejarah persandian.
Berlokasi di bekas rumah Kolonel Dr Roebiono Kertopati, bapak persandian Indonesia, museum ini menyimpan koleksi mesin sandi, dokumen rahasia, dan alat komunikasi masa perang kemerdekaan.
Salah satu koleksi unggulannya adalah peralatan sandi yang digunakan pada masa Agresi Militer Belanda I dan II.
Menjelang peringatan kemerdekaan tahun ini, landmark-landmark tersebut menjadi pengingat bahwa Yogyakarta bukan hanya pusat pendidikan, tetapi juga pusat sejarah perjuangan bangsa.
Setiap bangunan dan monumen di kota ini menyimpan jejak pengorbanan yang patut dikenang oleh generasi penerus. (Jihan Pertiwi)