RADAR JOGJA - Gunung Kidul dikenal dengan pesona pantainya yang indah dan gua-gua eksotis.
Di balik barisan perbukitan karst yang terjal, tersembunyi sebuah dusun yang menyimpan kekayaan sejarah dan keunikan geografis luar biasa.
Dusun itu bernama Wotawati, terletak di Kalurahan Pucung, Kapanewon Girisubo.
Secara geografis, Wotawati berada di lembah bekas aliran Bengawan Solo Purba, sungai legendaris yang dahulu mengalir hingga ke Pantai Selatan Jawa.
Dusun ini dikelilingi oleh tebing karst, menciptakan lanskap yang dramatis sekaligus unik.
Karena letaknya yang tertutup, sinar matahari baru muncul sekitar pukul 07.00 WIB, bahkan bisa molor hingga pukul 10.00 WIB di bulan-bulan tertentu.
Matahari pun tenggelam lebih cepat, sekitar pukul 16.30 WIB.
Meski siang hari terasa begitu singkat, kehidupan masyarakat tetap bergulir seperti biasa, bertani dan beternak menjadi sumber nafkah utama.
Dari sisi sejarah, Wotawati memiliki akar yang dalam. Pada abad ke-16, saat Kerajaan Majapahit mengalami serangan dari Kesultanan Demak, Raden Joyo Sukmo bersama para pengikut dan warga setianya melarikan diri ke arah barat daya.
Dalam pelariannya, mereka menemukan lembah yang subur dan aman dari jangkauan musuh.
Di tempat inilah mereka menetap dan membangun permukiman yang diberi nama Wotawati, berasal dari bahasa Jawa yang bermakna "saling menjaga".
Nama ini mencerminkan nilai-nilai gotong royong dan solidaritas antarwarga yang telah diwariskan turun-temurun.
Keunikan sejarah dan geografi Wotawati akhirnya mendapat perhatian Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Pada pertengahan tahun 2024, Pemprov DIY mengucurkan Dana Keistimewaan sebesar Rp5 miliar untuk merevitalisasi dusun ini sebagai desa wisata berbasis sejarah dan geologi.
Baca Juga: Jangan Tinggal Diam, DSP Borobudur Harus Berdampak bagi UMKM Purworejo
Program revitalisasi Dusun Wotawati mencakup pembangunan infrastruktur wisata, pelestarian situs sejarah, dan pelatihan warga untuk mengelola wisata berbasis komunitas.
Dusun ini mulai menarik perhatian wisatawan, peneliti geologi, dan pecinta sejarah.
Tak lagi sekadar dusun terpencil, Wotawati akan tampil sebagai ikon budaya yang menghidupkan warisan Majapahit.
Dengan penataan berkelanjutan dan dukungan warga, Wotawati bersiap menjadi desa wisata sejarah baru di DIY. (Jihan Pertiwi)
Editor : Meitika Candra Lantiva