Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Buktikan KDM Salah, Study Tour Tak Sekadar Piknik, GIPI DIY Minta Pelaku Usaha Fokus ke Layanan dan Produk

Agung Dwi Prakoso • Rabu, 6 Agustus 2025 | 15:05 WIB

 

CIRI KHAS: Wisatawan menaiki andong dan becak motor saat melintas di seputaran kawasan Alun-Alun Utara, Jogja Selasa (5/8).
CIRI KHAS: Wisatawan menaiki andong dan becak motor saat melintas di seputaran kawasan Alun-Alun Utara, Jogja Selasa (5/8).
 

JOGJA - Kebijakan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi terkait larangan study tour bagi siswa sekolah menuai polemik hingga lintas daerah. Tak terkecuali di DIY. Namun, momentum ini justru bisa menjadi ajang pembuktian, bahwa study tour bukan sekadar piknik.

Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) DIY Bobby Ardyanto Setyo Ajie menyebut, para pelaku pariwisata, lebih baik melakukan penguatan produk dan pelayanan. Dibandingkan harus terus melawan kebijakan daerah lain. Sebab kedewasaan diperlukan dalam menanggapi masalah tersebut. Selain itu juga agar DIY tidak terkesan lembek karena regulasi daerah lain.

"Kesannya jadi kita itu enggak tahan banting menghadapi situasi dan kondisi ini," ungkapnya.

Kemudian, ia juga menyarankan agar para pelaku usaha meperbaiki produk study tour di DIY. Khususnya pada nilai dan tujuan dari study tour. Utamanya adalah poin edukasi, agar sesuai dengan tupoksi.

"Seharusnya bisa menjawab hal yang dipermasalahkan KDM, bahwa study tour bukan piknik," ucapnya.

 Baca Juga: Peringatan bagi Vendor dengan Stikerisasi pada Papan Reklame di Kebumen yang Tak Taat Bayar Pajak

dari total wisatawan domestik yang datang ke DIY, 40 persen di antaranya adalah dari study tour. Namun, adanya larangan itu justru menjadi pembelajaran bagi para pelaku pariwisata.

Khususnya soal ketergantungaan pada salah satu market. Hal ini justru memiliki risiko tinggi. Selain adanya larangan itu, dia pun mencontohkan soal efisiensi anggaran. Membuat industri perhotelan khususnya meetings incentives conventions and exhibitions (mice) dari kalangan lembaga pemerintahan lansgung lesu.

"Di bisnis apa pun, ketergantungan dengan salah satu market terlalu besar, itu risikonya besar buat kita," tuturnya.

Menurutnya, seluruh pemegang sektor pariwisata di DIY harus menyadari potensi lain yang dimiliki untuk dikembangkan. Sehingga menjadi momen untuk membangun kepariwisataan agar lebih kokoh menghadapi dinamika di masa depan. "Bukan menjadi seperti sekarang yang sangat rentan terhadap satu regulasi dan dinamika daerah lain," lontarnya.

 

Larangan study tour, lanjutnya, tidak menghentikan kunjungan pariwisata ke DIY secara penuh. Pada momentum Lebaran lalu, tren kunjungan wisatawan banyak berasal dari siswa yang datang dengan keluarga. "Spending-nya menjadi lebih dibanding pada saat mereka datang bersama sekolahan dengan budget yang sudah dipastikan standar," katanya. (oso/eno)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#pelaku usaha #KDM #Larangan Study Tour #Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) #gubernur jawa barat dedi mulyadi #study tour #Pariwisata #GIPI DIY #DIY #Kebijakan