MUNGKID — Petani kopi arabika dan luwak di lereng Gunung Merbabu dan Merapi, tepatnya di Desa Wonolelo, Sawangan, Kabupaten Magelang, tengah memasuki masa panen raya. Tak hanya menguntungkan dari sisi harga jual, komoditas ini juga menjadi daya dukung pariwisata unggulan di kawasan wisata Negeri Kahyangan.
Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Mekarsari Wonolelo Sukimin, mengutarakan, panen raya tahun ini dimulai sejak Mei dan diperkirakan berlangsung hingga Agustus. "Setiap sepuluh hari kami panen. Sejak Mei sampai sekarang, sudah sembilan kali panen," ujarnya, Minggu (3/8).
Dia menyebut, dibandingkan tahun sebelumnya, volume panen kopi tahun ini meningkat lebih dari 30 persen. Peningkatan itu disertai dengan kenaikan harga jual yang cukup signifikan.
Harga biji kopi basah di tingkat petani kini mencapai Rp 14 ribu per kilogram (kg) dari yang semula Rp 10 ribu per kg. Sementara kopi kering atau green bean menembus angka Rp 150 ribu per kg, naik dari harga tahun lalu yang hanya sekitar Rp 120 ribu per kg.
Tak hanya kopi arabika biasa, Desa Wonolelo juga dikenal sebagai penghasil kopi luwak liar. Sejak 2019, para petani di bawah Gapoktan Mekarsari mulai mengembangkan pengolahan biji kopi luwak secara maksimal menjadi produk siap jual.
Harga kopi luwak liar asal Wonolelo pun jauh lebih tinggi, yakni sekitar Rp 500 ribu per kg, menandakan nilai eksklusif dari produk ini. "Biji kopi luwak kami bukan dari budi daya, tapi dari luwak liar. Petani biasanya menemukannya langsung di ladang saat panen," imbuhnya.
Hamparan kebun kopi yang membentang di ketinggian lebih dari 1.600 meter di atas permukaan laut (mdpl) itu tak hanya menghasilkan biji berkualitas, tetapi juga memperindah lanskap wisata di kawasan Negeri Kahyangan.
Aroma dan cita rasa buah yang khas dari kopi Wonolelo menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.
Saat ini, lanjut dia, ada sekitar 130 petani tergabung dalam Gapoktan Mekarsari yang mengelola lahan seluas lebih dari 450 hektare, tersebar di empat dusun di wilayah tersebut.
"Sekali panen, jika dilakukan serempak, petani bisa memperoleh hingga delapan kuintal kopi basah," katanya.
Menurut pengelola wisata Negeri Kahyangan Supri, kopi lokal menjadi salah satu oleh-oleh favorit pengunjung. "Banyak wisatawan yang tertarik. Mereka mencicipi kopi saat berkunjung, lalu membeli dalam bentuk kemasan untuk dibawa pulang," paparnya saat dihubungi.
Dengan panen melimpah dan daya tarik wisata yang terus meningkat, lanjut dia, Desa Wonolelo menjadi contoh ideal sinergi antara pertanian dan pariwisata berbasis lokal yang saling mendukung dan memperkuat. (aya/pra)
Editor : Heru Pratomo