Hamparan sawah, pegunungan, serta hewan-hewan jinak menambah daya tarik tersendiri di Hutan Desa Magelang.
MUNGKID - Di tengah riuhnya wisata modern, sebuah oase ketenangan hadir di lereng Gunung Merbabu. Tepatnya di Kragon, Madyogondo, Ngablak, Kabupaten Magelang. Namanya Hutan Desa Magelang, destinasi wisata alam yang menyuguhkan kombinasi sejuknya udara pegunungan, hijaunya bentang alam, serta pengalaman edukasi bagi keluarga, terutama anak-anak.
Meski tergolong baru, berdiri sekitar 1,5 tahun terakhir, popularitasnya terus meningkat. Terlebih, konsep wisata yang diusung berbeda dari kebanyakan tempat liburan. Sebab pengelola ingin anak-anak punya ruang untuk bermain secara alami, tidak hanya berkutat di mal, tapi juga mengenal lingkungan dan berinteraksi dengan hewan.
Public Relation Hutan Desa Magelang Hanif Adi Prasetyo mengutarakan, konsep yang diusung adalah playground mini, bukan sekadar tempat piknik biasa. Di kompleks yang juga terhubung dengan Senja Pagi Cafe ini, pengunjung diajak menikmati suasana santai di kawasan perbukitan yang tenang.
Di sana, pengunjung bisa berlarian di padang rumput, menjelajah hutan kecil, hingga memberi makan rusa jinak dan kelinci. Total ada tujuh rusa jinak dan puluhan kelinci di area mini zoo. "Pengunjung bisa berinteraksi, memberi makan, bahkan berfoto bersama," ujar Hanif saat dihubungi, Jumat malam (18/7).
Pengelola pun menyediakan paket pakan dengan harga ramah kantong, hanya Rp 5 ribu per paket berupa rerumputan atau wortel. Tak hanya hewan, bentang alam di sekitar kawasan ini menyuguhkan panorama spektakuler.
Dari sini, wisatawan dapat menyaksikan keindahan tujuh gunung sekaligus. Yakni Merbabu, Telomoyo, Andong, Merapi, Sumbing, Sindoro, hingga Prau. Sebuah lanskap megah yang jarang ditemui di tempat lain.
Yang membuat Hutan Desa Magelang semakin menarik bukan hanya pesona alamnya. Tetapi juga semangat kolaborasi yang menghidupinya. Lahan wisata menggunakan sistem sewa milik masyarakat.
Bahkan, sebagian hasil penjualan tiket dikembalikan ke masyarakat, termasuk untuk perawatan hewan dan pengembangan fasilitas. "Kami menggandeng warga sekitar, khususnya petani, agar wisata ini bisa menggerakkan ekonomi lokal. Ini bukan sekadar tempat wisata, tapi juga upaya pemberdayaan," jelas Hanif.
Baca Juga: Pameran Museum of Laskar Mataram Hadirkan Jersey Ikonik Lintas Era, Jejak Sejarah Panjang PSIM Jogja
Berkendara menuju Hutan Desa Magelang bukan perjalanan yang melelahkan. Akses jalan dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat, dengan suguhan pemandangan khas pedesaan yang menyegarkan mata sepanjang perjalanan.
Tiket masuk pun terbilang terjangkau, yakni Rp 12.500 saat hari biasa dan Rp 15.000 saat hari libur. Bagi yang ingin lebih lama menikmati alam, tersedia area camping lengkap dengan penyewaan perlengkapan. Tak kalah seru, saat musim panen stroberi, pengunjung bisa memetiknya secara gratis, sebuah bonus manis dari alam.
Tidak hanya warga lokal yang jatuh cinta. Dalam setahun terakhir, Hutan Desa Magelang kerap disambangi wisatawan dari berbagai kota seperti Semarang, Jogjakarta, Surabaya, bahkan dari mancanegara seperti Malaysia dan Singapura. "Rerata pengunjung sekitar 50 sampai 100 orang per hari, khususnya saat libur sekolah dan akhir pekan," kata Hanif.
Tak ingin puas hanya dengan kondisi saat ini, pengelola berkomitmen terus berbenah. Fokus utamanya adalah meningkatkan kenyamanan pengunjung, menambah wahana edukatif, serta memperluas dampak sosial bagi masyarakat. "Ke depan, kami ingin menambah fasilitas khusus untuk anak-anak agar mereka bisa bermain sekaligus belajar tentang alam," tutur Hanif. (aya)
Editor : Heru Pratomo