Air tersebut ditemukan pertama kali pada 1997 oleh seorang guru SMA bernama Parto, saat sedang berdoa secara pribadi di kompleks candi yang berada di Dusun Ganjuran, Sumbermulyo, Bambanglipuro, Bantul.
“Dalam meditasi doanya, Pak Parto mendapat bisikan di bawah candi ada sumber air melimpah yang bisa menolong sesama,” ungkap Aris Dwitanto, 53, sekretaris Gereja Ganjuran Senin (2/5).
Setelah menyampaikan temuan tersebut kepada Romo Utomo, dilakukan pengecekan.
Hasilnya, ditemukan adanya aliran air yang merembes dari dasar candi.
Setelah diuji di laboratorium UGM, air dinyatakan bersih dan mengandung mineral.
“Air itu tidak berupa danau atau kubangan. Tapi kalau digali, debitnya besar. Maka kami angkat dan benahi untuk jadi fasilitas ziarah,” tambah Aris.
Keberadaan air ini kemudian menjadi daya tarik spiritual tersendiri.
Apalagi setelah beredar kisah kesembuhan adik Romo Utomo, yaitu Perwito, yang diyakini sembuh berkat air tersebut.
Dari situlah air yang ada di bawah Candi Ganjuran diberi nama Perwitasari.
Air Perwita Sari kini menjadi salah satu sarana devosi yang diyakini mampu menyampaikan doa umat kepada Tuhan.
Meski berasal dari kompleks Katolik, siapa pun boleh datang dan berdoa.
“Yang datang bukan hanya umat Katolik, ada juga dari umat Muslim, tokoh agama dari Bandung pun pernah ke sini,” ucap Aris.
Umat diperbolehkan membawa pulang air tersebut. Jika peziarah tidak membawa botol, ada warung-warung sekitar yang menyediakan.
Air yang dibawa ada yang menggunakannya untuk campuran mandi, bahkan direbus untuk diminum atau untuk memasak makanan.
Namun Aris menegaskan, air ini bukanlah benda mujarab yang otomatis membawa mukjizat.
“Bukan airnya yang ampuh. Yang utama itu doa dan kepasrahan diri kepada Tuhan dengan keyakinan masing-masing,” pungkasnya.
Selain dipercaya dapat menjadi sarana dikabulkannya permintaan, Aris juga menjelaskan air Perwitasari tidak hingga saat ini tidak pernah surut.
Yohana, 61, peziarah asal Kalimantan Selatan membuktikan air Perwitasari di Candi Ganjuran memang bisa menjadi sarana berdoa agar keinginannya bisa dikabulkan.
"Saya berdoa agar diberi kesehatan, Walaupun sudah tua, tetapi Tuhan Yesus memberkati Maria mendampingi, doa saya terkabul," jelasnya.
Yohana sudah ketiga kalinya berkunjung ke Candi Ganjuran. Ia juga menjelaskan Candi Ganjuran terkenal dengan banyaknya pengunjung yang datang dan doa-doa yang mereka inginkan terkabul.
Maka dari itu ia tertarik mengunjungi Candi Ganjuran untuk berdoa sekaligus mendekatkan diri kepada Tuhan.
"Saya sudah tua mesti mendekatkan diri sama Tuhan karena ngga ada yang saya cari lagi selain tuhan," tutupnya. (cr2)
Editor : Bahana.