JOGJA - Sejak dinyatakan jadi pemenang Pilkada Jawa Barat (Jabar) akhir Februari lalu, Dedi Mulyadi langsung menyatakan akan melarang study tour. Sejak itu jumlah pelajar dari Jabar yang berwisata ke DIJ turun drastis.
”Lama tak terdengar celetukan, ’kadieu neng’, kini lebih sering dengan ’ke mana cuk’,” kata pengelola wisata Tebing Breksi di Sambirejo Prambanan, Kholiq Widiyanto, Minggu (1/6). Dia menggambarkan perubahan pengunjung mayoritas dari Jabar kini kebanyakan dari Jawa Timur.
Diakuinya penurunan kunjungan study tour dari Jabar sudah dirasakan bahkan sebelum pria yang dipanggil KDM, singkatan dari Kang Dedi Mulyadi, dilantik jadi gubernur. Dia mengingat, bahkan sudah ada yang bayar uang muka akhirnya membatalkan kunjungan. “Ya kami kembalikan 100 persen,” ungkapnya.
Ketua Asosiasi Jeep Wisata Lereng Merapi (AJWLM) Wilayah Barat Dardiri menjelaskan, wisatawan dari Jabar menyumbang hampir setengah wisatawan jip. Di dalamnya termasuk dari siswa yang tengah menjalani study tour. "Saya hanya sempat melihat satu dua bus study tour Jabar. Mungkin karena sudah direncanakan lama. Paling banyak Jatim," katanya.
Di Kota Jogja, Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengelolaan Budaya Kota Jogja Karmila mengatakan, secara kasat mata memang ada penurunan wisatawan pelajar asal Jabar ke Taman Pintar. Dia mengungkap, secara jumlah kunjungan wisatawan ke Taman Pintar tetap stabil. Lantaran ada kenaikan jumlah wisatawan yang berasal dari Jatim dan Jateng.
Adanya peningkatan wisatawan dari dua daerah tersebut, menurutnya, karena Jateng dan Jatim juga merespon kebijakan yang dikeluarkan oleh Dedi Mulyadi. Yakni dengan merubah tujuan study tour yang sebelumnya ke Jawa Barat ke daerah lain. “Mungkin para tour leader di Jateng dan Jatim juga mereaksi kebijakan Jabarsoal pelarangan study tour,” ujar Karmila.
Di sentra oleh-oleh bakpia pun merasakan adanya penurunan kunjungan rombongan pelajar dari Jabar. Meski disebut penurunan tapi tidak terlalu besar sekitar 10 sampai 20 persen. "Pasti berdampak biasanya ramai ini jadi berkurang," kata Supervisior Bakpia Pathok 25 Jogja Ahmad Sudrajat.
Walaupun tidak ada kunjungan para pelajar ini, tapi Bakpia Pathok 25 tetap memiliki beragam pelanggan yang lainnya. "Akhir-akhir ini pengunjung dari Jawa Barat, Cirebon juga banyak yang wisata, malah bukan dari anak sekolah, melainkan dari kantor dan kampung," ujar Drajat.
Drajat sendiri sebenarnya sangat berharap agar kebijakan larangan study tour ini bisa dipertimbangkan kembali. Sebab selain berdampak kepada para pelaku usaha, larangan tersebut menurutnya juga pasti berdampak kepada para siswa itu sendiri. "Soalnya anak-anak atau murid itu sebenarnya juga membutuhkan kegiatan rekreatif buat selingan biar tidak jenuh belajar," tandasnya. (ayu/del/inu/pra)
Editor : Heru Pratomo