MUNGKID - Presiden Prabowo Subianto bersama Presiden Prancis Emmanuel Macron dijadwalkan berkunjung ke Candi Borobudur di Kabupaten Magelang, Kamis (29/5) mendatang. Yang heboh di media sosial, di tangga candi Buddha terbesar di dunia itu akan dipasang stairlift.
Pemasangan stairlift dan persiapan menyambut tamu negara ini menjadi salah satu alasan penutupan akses ke zona I atau pelataran Candi Borobudur, Senin (26/5). Hanya saja informasi itu diberitahukan kepada wisatawan secara mendadak, sehingga banyak wisatawan kecele karena tidak bisa sampai pelataran candi.
Pgs Corporate Secretary Group Head PT TWC Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko Destantiana Nurina enggan berkomentar soal rencana pemasangan stairlift di tangga candi. "Apa yang Anda tanyakan, semua akan disampaikan besok di media briefing. Besok yang lebih berwenang akan menyampaikannya," paparnya Senin (26/5).
Dari Jakarta dilaporkan, Kepala Kantor Komunikasi Presiden (PCO) Hasan Nasbi membenarkan gambar viral Candi Borobudur yang dipasang fasilitas lift. Pemasangan itu bagian dari persiapan kunjungan Presiden Prancis Emanuel Macron ke candi ini.
Hasan mengatakan, selain ke Jakarta, Macron akan berkunjung ke Candi Borobudur. Sebagai tuan rumah yang baik, Indonesia berupaya menyediakan fasilitas yang maksimal termasuk dalam kunjungan itu.
"Beliau akan ditemani oleh Presiden Prabowo rencananya selama di sana. Dan pihak pengelola menyiapkan beberapa fasilitas untuk memudahkan kunjungan," ujarnya di kantor PCO, Jakarta, Senin (26/5).
Hasan mengatakan, secara konstruksi bangunan Candi Borobudur sangat tinggi. Jika dikomparasikan, ketinggiannya setara dengan gedung 12 lantai.
"Kalau kita naik tangga ke lantai 12 ini kan keringat bercucuran, dalam keadaan kecapean bisa kusut. Ini untuk lebih proper aja saja sebagai sebuah kunjungan kenegaraan," tuturnya.
Situasi itu dinilai tidak ideal untuk kunjungan kenegaraan. Untuk itu, demi memudahkan akses kedua pemimpin negara tersebut, maka akan dibangun lift portable. Apalagi, waktu yang dimiliki Macron di Indonesia terbatas.
Hasan juga memastikan, proses pemasangan lift itu akan dilakukan dengan cermat. Bahkan dipantau langsung oleh Kementerian Kebudayaan RI. Sehingga pihaknya menjamin tidak akan merusak cagar budaya warisan dunia itu.
Teknisnya, lift portable itu terdiri atas alat semacam jalan setapak yang tidak pakai tangga untuk sampai level 4. Kemudian dipasang stairlift di pinggiran tangga untuk membawa orang ke lantai berikutnya.
"Tidak ada paku, tidak ada bor. Jadi hanya ditaruh, didudukkan, ditaruh saja. Jadi nanti ketika misalnya itu selesai, itu bisa dibongkar dengan mudah," jelasnya.
Terkait urgensi kunjungan Macron, Hasan menegaskan kedatangan presiden Prancis sebagai salah satu negara besar di dunia sangat penting bagi Indonesia. Sama halnya dengan kunjungan Perdana Menteri Tiongkok minggu lalu.
Sementara itu, dengan ditutupnya akses ke zona I atau pelataran Candi menjadikan wisatawan hanya diperbolehkan berkunjung di Marga Utama. Karena ada perawatan secara keseluruhan. Pintu pagar menuju pelataran candi ditutup. Sehingga wisatawan hanya bisa menikmati gagahnya candi dari luar pagar.
Selain itu, kompleks Taman Wisata Borobudur juga tengah bersolek. Sejumlah persiapan tengah dilakukan. Ada banyak tiang yang berdiri kokoh. Dua di antaranya dipasang bendera Indonesia dan Prancis.
Petugas kebersihan sibuk membersihkan seluruh area Marga Utama. Kemudian rerumputan di area Marga Utama kini berganti dengan tanaman bernama kembang coklat. Tanaman itu nampak baru ditanam karena tidak seluruhnya berbunga.
Wisatawan asal Bali Made Agus Wiyanta menyebut, pembatasan area kunjungan itu diberitahukan secara mendadak. Dia baru mengetahuinya saat tiba di area Marga Utama. Agus pun merasa kecewa karena tidak bisa naik ke pelataran.
Dia berusaha melobi sekuriti agar diizinkan naik beberapa menit. Namun usahanya sia-sia. Dia bersama rombongannya tetap tidak diperbolehkan naik. "Katanya, (informasi penutupan pelataran) memang mendadak, mulai hari ini (kemarin, Red) sampai 29 Mei," paparnya.
Seharusnya, kata dia, petugas di loket tiket memberitahu soal penutupan tersebut. "Harusnya di ticketing dikasih tahu. Kalau kecewa, ya kecewa. Sudah jauh-jauh dari Bali, mau berkunjung, tapi tidak bisa naik (ke pelataran)," tambahnya.
Hal sama juga dialami wisatawan asal Prancis Heloise. Penutupan pelataran candi diinformasikan saat dirinya sudah berada di area Marga Utama. Padahal, dia baru kali pertama berkunjung ke Candi Borobudur. "Kami tidak bisa naik, tapi dari sini juga sudah bagus (pemandangan candi)," katanya. (aya/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita