JOGJA – Dinas Pariwisata (Dispar) Kota Jogja kembali menggelar Festival Jeron Beteng “Masangin” Menari Bersama-sama di Destinasi Ngangenin, Sabtu (12/4). Serangkaian acara dihadirkan di Festival Jeron Beteng #3 ini, mulai dari Festival Layang-layang hingga Pawai Ogoh-Ogoh.
Kepala Bidang Daya Tarik Pariwisata Dispar Kota Jogja, Yurnelis Piliang mengatakan, sejak gelaran pertama hingga saat ini, Festival Jeron Beteng diselenggarakan dengan berkolaborasi bersama tiga kelurahan yang berada di dalam Jeron Beteng, yaitu Kelurahan Kadipaten, Patehan, dan Panembahan.
Dia menyebut, pada tahun ini, Festival Jeron Beteng mengusung tema Masangin, yaitu Menari Bersama-sama di Destinasi Ngangenin yang digelar di Alun-Alun Selatan.
“Diharapkan menjadi event tahunan yang bisa menjadi daya tarik tambahan bagi wisatawan sehingga lama tinggal dan belanja wisatawan dapat tetap meningkat,” katanya.
Rangkaian kegiatan Festival Jeron Beteng sendiri dimeriahkan dengan Festival Layang-Layang dari 10 layang-layang ukuran besar yang berkolaborasi dengan Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI) DIJ di Alun-alun Selatan.
“Ada pula workshop layang-layang yang terdiri dari 100 peserta anak-anak merangkai layang-layang tradisional dengan motif topeng,” jelas Yurnelis.
Hasil dari workshop tersebut berupa pentas kesenian yang menampilkan Tari Mangastuti dan Tari Cemeti Ayu dari Pokdarwis Panembahan. Lalu Tari Tangkasing Ajurit dan Tari Mbatik dari Pokdarwis Kadipaten. Serta Tari Ngambar Arum dan Tari Modern dari Pokdarwis Patehan.
“Puncak kegiatan ini akan dilaksanakan Masangin Menari Bersama-sama di Destinasi Ngangenin yang diikuti oleh 500 orang penari menggunakan atribut topeng sebagai penutup wajah,” ujar Yurnelis.
Ketua Komite Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia (KORMI) Kota Jogja Septi Sri Rejeki mengatakan, 10 layang-layang yang ditampilkan dalam Festival Layang-layang memiliki ukuran besar dengan berbagai karakter. Layang-layang tersebut telah disiapkan sejak pukul 10.00 untuk dinaikkan.
Mengingat untuk menaikkan layang-layang berukuran besar dibutuhkan waktu dan tentunya kekuatan angin.
"Ada 10 layang-layang, nantinya akan menggambarkan pandawa lima, lalu juga ada yang terkait filosofi Jeron Beteng, atau filosofi Keraton Ngayogyakarta," ucap Septi.
Sebagai rangkaian Festival Jeron Beteng, Dispar Kota Jogja berkolaborasi dengan Paguyuban Hindu Dharma Indonesia (PHDI) DIJ melaksanakan pawai ogoh-ogoh dan bergodo sebagai salah satu rangkaian kegiatan.
Pawai ini dimulai dari halaman DPRD DIY melalui Jalan Malioboro dan Jalan Margo Mulyo, lalu berakhir di halaman Taman Pintar.
Koordinator pawai ogoh-ogoh, I Dewa Gede Gilang Pratiwimba mengatakan, kerja sama penyelenggaraan pawai ogoh-ogoh ini sudah yang kedua kalinya. Sementara pada Festival Jeron Beteng ini akan dihadirkan lima ogoh-ogoh.
Ogoh-ogoh yang dirancang dan dibuat oleh PHDI DIJ adalah Catur Netra sebagai ogoh-ogoh yang hadir sebagai simbol kerakusan atau keserakahan yang menguasai jiwa manusia.
Kemudian Subali yang mengisahkan konflik subali dan sugriwa yang mengajarkan rendah hati, menjaga hubungan keluarga, dan menghargai nilai-nilai kejujuran dan persaudaraan.b(tyo/pra)
Editor : Heru Pratomo