Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pengelola Pantai Kuwaru Merasakan Zaman Keemasan Tahun 2010-2014, Parkiran Mobil hingga Kampung, Jalanan di Sekitarnya Macet

Khairul Ma'arif • Minggu, 23 Maret 2025 | 14:00 WIB

 

Kondisi sarpras Pantai Kuwaru, Bantul yang sudah tidak terawat.
Kondisi sarpras Pantai Kuwaru, Bantul yang sudah tidak terawat.

BANTUL - Pantai Kuwaru yang dulu pernah menjadi primadona destinasi wisata, bagi masyarakat pantai ini sempat menjadi sandaran ekonomi untuk kebutuhan sehari-hari. Namun masa kejayaannya yang pendek sehingga tidak lagi menjadi penopang ekonomi warga Padukuhan Kuwaru, Poncosari.

Mantan pengelola Pantai Kuwaru Idiyanto mengungkapkan, masa keemasannya sejak 2010 hingga 2014. Menurutnya, saat itu dikelola oleh kelompok kegiatan Padukuhan Kuwaru. “Abrasi 2013 akhir, lantas 2014 seterusnya Pantai Kuwaru mulai sepi,” katanya, Jumat (21/3).

Padahal ketika masih naik daun, Pantai Kuwaru  memiliki pendapatan asli daerah (PAD) pariwisata yang hampir sama dengan Pantai Parangtritis. Ini karena kunjungan wisatawan tidak sedikit. Di saat hari biasa pun masih ada pengunjung yang datang meski jumlahnya tidak banyak, sekitar 200-an orang.

Puncak kejayaannya terjadi pada 2010-an. “Dulu saking ramainya parkiran sampai kampung Kuwaru, pada jalan kaki dan macet tidak bisa jalan,” ungkapnya.

Idiyanto menuturkan, saat weekend dulu Pantai Kuwaru bisa sampai ribuan orang dan ketika musim libur bisa puluhan ribu pelancong.

Pria berusia 43 tahun ini menyampaikan, kehadiran pesaing di sekitarnya seperti Pantai Goa Cemara dan Pantai Baru menambah Pantai Kuwaru menjadi tidak dilirik. Apalagi keduanya memiliki keunggulan seperti lahannya yang luas dan belum terkena abrasi.

Menurutnya, abrasi membuat Pantai Kuwaru semakin menyempit dan merusak bangunan pedagang di sekitarnya. Kunjungan wisatawan yang sepi membuat pengelolanya juga meninggalkan Pantai Kuwaru.

"Sekitar 2019 saya buka di timurnya Pantai Tanggul Tirto yang baru karena Kuwaru sepi,” sambungnya.

Mayoritas pengelola di Pantai Tanggul Tirto merupakan eks Pantai Kuwaru, termasuk Idiyanto. Namun di awal pembukaannya tidak berjalan mulus. Pengunjung masih sepi dan baru 2023 akhir sampai sekarang wisatawan mulai berdatangan, itu pun pada sore hari saja. “Ingin pengembangan Pantai Kuwaru lagi, sekarang bagus tetapi masalah dana yang menghambat,” tuturnya.

Pasalnya, untuk memulai pengelolaan pantai, dilakukan swadaya dana kelompok oleh masyarakat Kuwaru. Begitu juga yang dilakukan ketika mulai operasionalkan Pantai Tanggul Tirto. Sedangkan untuk mengharapkan investor sangat sulit diharapkan.

 

"Butuh modal bantuan untuk membuka kembali Pantai Kuwaru,” tegasnya. Idiyanto menuturkan, Dinas Pariwisata (Dispar) Bantul masih minim perhatian untuk Pantai Kuwaru. Bahkan untuk pembangunannya pun seperti belum tersentuh.

Sementara itu, Adyatama Kepariwisataan Dispar Bantul Markus Purnomo Adi menanggapi, untuk pendanaan memulai destinasi wisata yang mati bisa memanfaatkan Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Menurutnya, sejumlah pengelola destinasi sudah sempat ditawarkan untuk memanfaatkan itu. Namun, memang belum ada yang memberikan respons tindak lanjutnya. (rul/laz)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#naik daun #destinasi wisat #pendapatan asli daerah (PAD) #Primadona #pengelola #Pantai Tanggul Tirto #Pantai Goa Cemara #kunjungan #pengunjung #Bank Perkreditan Rakyat (BPR) #Pariwisata #Padukuhan Kuwaru #Dinas Pariwisata (Dispar) #weekend #Pantai Kuwaru #Pantai Baru #pantai parangtritis #Wisatawan #dispar bantul #Poncosari