Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pengamat Ekonomi Sebut Wisata Bukan Kebutuhan Primer, Harus Bijak dan Ada Planning Jelas

Fahmi Fahriza • Selasa, 28 Januari 2025 | 14:20 WIB

 

Wisatawan menggunakan jasa jip wisata Merapi saat berlibur, di kawasan Kali Kuning, Cangkringan, Sleman, kemarin (27/1). Okupansi hotel saat libur panjang Isra Mi
Wisatawan menggunakan jasa jip wisata Merapi saat berlibur, di kawasan Kali Kuning, Cangkringan, Sleman, kemarin (27/1). Okupansi hotel saat libur panjang Isra Mi
 

 

JOGJA - Long weekend yang terjadi saat ini, secara umum juga turut dirasakan dampaknya di wilayah DIJ. Berbagai sektor perekonomian dan wisata mendapat imbas positif libur panjang Isra Mikraj dan Imlek ini.

Merespons hal itu, pengamat ekonomi dan investasi sekaligus dosen Manajemen FEB UGM I Wayan Nuka Lantara mengungkapkan, bagi para wisatawan, pengelolaan keuangan jadi aspek krusial yang harus dipahami dan dilakukan.

"Wisata itu bukan kebutuhan primer bagi semua orang. Dalam konteks ini, harus bijak dan ada planning jelas mengelola uang," katanya kepada Radar Jogja, Senin (27/1).

Wayan cukup mengkhawatirkan apabila banyak orang yang mengedepankan impulsivitas atau keinginan sesaat selama long weekend seperti di Januari ini. Apalagi, harus disadari bahwa pola yang umum terjadi saat long weekend adalah kenaikan harga di banyak sektor wisata.

"Ini perlu jadi perhatian, karena secara umum spending yang mereka keluarkan pasti lebih besar dibanding liburan di hari biasa," ujarnya.

Dosen Manajemen FEB UGM I Wayan Nuka Lantara
Dosen Manajemen FEB UGM I Wayan Nuka Lantara

Secara umum, Wayan menyadari saat ini sudah sangat banyak fitur atau skema yang memudahkan seseorang melakukan transaksi. Termasuk pembelian tiket pesawat hingga pemesanan hotel yang bisa menggunakan kartu kredit ataupun pay later.

Diakui, fenomena itu bisa jadi bumerang bagi orang-orang yang sebenarnya tidak memiliki atau mempersiapkan dana khusus untuk liburan. Sehingga dikhawatirkan mereka menggunakan cara-cara alternatif itu.

"Kalau ada alokasi yang direncanakan itu tidak masalah. Tapi kalau harus pinjam, jual barang, itu saya tidak sarankan. Kalau manajemen keuangannya tidak ideal, nanti setelah liburan itu yang jadi masalah. Bukan saat liburannya," tambahnya.

Jika menilik dari sisi perekonomian dan wisata, ia menguraikan kenaikan harga mulai dari kamar hotel, parkir, retribusi wisata yang naik juga lazim terjadi saat long weekend. Namun ia juga menekankan, kenaikan harga yang sifatnya sporadis dan irasional juga berbahaya, apalagi untuk jangka panjang.

"Bisnis wajar profit oriented, tapi juga tidak boleh berpikir jangka pendek. Ada yang namanya sustainabily. Kalau nuthuk harga itu bisa bahaya," pesannya.

Di samping itu Wayan juga berpesan, jika harga dinaikkan saat momentum long weekend  hal tersebut juga perlu dibarengi dengan peningkatan pelayanan dan fasilitasi bagi para tamu atau wisatawan.

"Harganya kalau naik perlu tetap rasional. Idealnya hospitality dan servisnya juga harus dinaikkan. Jadi tamu juga merasa sepadan dengan harga yang dibayarkan,"  tandasnya. (iza/laz)

 

 
Editor : Heru Pratomo
#long weekend #Isra Mikraj #keuangan #Wisata #Imlek #Planning #Dosen Manajemen FEB UGM I Wayan Nuka Lantara