JOGJA - Sebanyak 9,2 juta pergerakan wisatawan diproyeksikan masuk DIJ pada masa libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2024/2025. Melihat hal ini, Pemprov DIJ menerapkan operasionalisasi sistem kota cerdas berbasis road safety policing untuk memantau pergerakan wisatawan di seluruh DIJ.
"Jumlah pengunjung ke daya tarik wisata di kabupaten/kota masa libur Nataru diperkirakan mencapai 1,5 juta hingga 1,7 juta," ujar Sekretaris Provinsi (Sekprov) DIJ Beny Suharsono di Kompleks Kepatihan Jogja, Senin (23/12).
Ia memperkirakan jumlah tamu yang menginap di hotel berbintang dan non bintang pada Desember sebanyak 1.016.440 orang. Dengan perkiraan banyaknya wisatawan itu, Pemprov DIJ berkolaborasi dengan jajaran Polda DIJ memperkenalkan pemanfaatan teknologi artificial intelligence (AI) yang terkoneksi 374 kamera pengawas di seluruh DIJ.
"Sistem kota cerdas (smart city) operasionalnya dipusatkan di Back Office Smart Province DIJ Kepatihan Jogja," tuturnya.
Ruang operator dikelilingi beberapa layar monitor besar. Monitor itu menampilkan data-data analitik dari kamera pintar yang dipasang di beberapa titik lokasi. Petugas akan berjaga selama 24 jam untuk memantau apabila ada aktivitas-aktivitas yang tidak diinginkan atau penumpukan jumlah kendaraan di satu titik saat libur Nataru.
"Di sini petugas bisa mengecek jumlah pergerakan kendaraan dan wisatawan real time," bebernya.
Sementara itu, Koordinator Smart Provincy DIJ Lilis Fransiska menjelaskan, para petugas bisa memonitor 374 CCTV dalam satu tempat. Ratusan CCTV itu tersebar di seluruh kabupaten/kota.
Baca Juga: Pastikan Keamanan Natal, Tim Gegana Polda DIY Lakukan Sterilisasi Lima Gereja di Gunungkidul
"Bahkan bisa otomatis menghitung jumlah dan mengklasifikasikan gender wisatawan yang berkunjung," ujarnya.
Hasil dari pantauan itu nantinya bisa dijadikan dasar keputusan cepat para penentu kebijakan. Apabila jumlah kendaraan atau wisatawan di suatu lokasi melebihi ambang batas, bisa segera terpantau. "Nanti kebijakannya apakah distop atau jalur dialihkan. Fungsi data seperti itu," tuturnya.
Teknologi tersebut juga bisa mengklasifikasikan jenis kendaraan seperti bus, mobil, truk atau sepeda motor. Otomatis memudahkan untuk mendeteksi adanya pelanggaran lalu lintas. "Misal parkir sembarangan, buang sampah ataupun menyeberang jalan sembarangan," bebernya.
Ratusan CCTV itu fokus dipasang di beberapa lokasi, khususnya wilayah perbatasan dan titik rawan kemacetan. Sepanjang Jalan Malioboro terdapat 13 CCTV, mulai dari palang kereta hingga Titik Nol Kilometer. (oso/laz)
Editor : Heru Pratomo