RADAR JOGJA - Padukuhan Ngunan-unan, jaraknya tidak begitu jauh dengan destinasi wisata pantai selatan Kabupaten Bantul misalnya Kawasan Pantai Samas. Diperkirakan rentang jaraknya tidak sampai lebih dari lima kilometer yang waktu tempuhnya hanya memakan waktu sekitar 10 menit saja menggunakan kendaraan bermotor. Meski begitu, masyarakat Ngunan-unan tetap mandiri dengan menjadikan wilayahnya desa wisata tersendiri.
Padukuhan yang terletak di Kalurahan Srigading, Kapanewon Sanden tersebut menonjol wisata berbasis ekologi sebagai modal menjadi desa wisata.
Ditasbihkannya sebagai desa wisata sudah sejak 2022 dan umumnya pengunjung yang datang merupakan kalangan yang hendak belajar atau studi tiru maupun studi banding mengenai berbagai hal dalam bidang ekologi. Warga Ngunan-unan menamakannya Edu Eko Wisata Narendra yang berbasis wisata belajar mengenai lingkungan.
“Paket wisata kami studi wisata sebagai alternatif belajar seperti misalnya wisatanya ke Parangtritis belajar di kami,” ujar Dukuh Ngunan-unan Endartono, Jumat (18/10/2024).
Baca Juga: Pernah Menang atas Arema Malang, Pelatih Barito Putera Tak Anggap Sepele PSS Sleman
Menurutnya, yang dipelajari di Ngunan-unan ada pengelolaan sampah, kelompok tani baik pria dan perempuan, kelompok ikan dan ternak yang tekniknya dapat dipelajari dengan praktik oleh pengunjung yang datang. Pengunjung yang datang di Ngunan-unan akan diajari pengelolaan sampah arang sekam yang ada asap cair sehingga dapat digunakan untuk penggunaan lainnya.
Ada juga pembelajaran kompos komunal yang dilakukan banyak masyarakat, budidaya maggot untuk pengelolaan sampah supaya bisa mengurai sampah sisa makanan. Nantinya maggotnya dijadikan sebagai pakan ternak ikan dan unggas. “Di sini pengunjungnya dapat belajar dan praktik secara langsung,” imbuhnya.
Endartono menuturkan, pengunjung mayoritas instansi baik itu pemerintah ataupun swasta selain juga ada kelompok masyarakat umum untuk survei dan belajar. Selain itu, kalangan pelajar ataupun mahasiswa pun turut berdatangan untuk pembelajaran. Menurutnya, memang wilayahnya tidak ada keunggulan sebagai destinasi maupun wahana wisata.
Oleh karena itu, wisata edukasi lingkungan ditonjolkan untuk pemberdayaan masyarakat dan pengembangan ekonominya. “Sebulan rerata kunjungan bisa 500-an orang,” tuturnya.
Baca Juga: Menemukan Ketenangan di Ekowisata Sungai Mudal: Surga Alam yang Menyegarkan di Kulon Progo
Seringnya, pertengahan hingga akhir tahun menjadi momen yang paling banyak pengunjung datang ke Edu Eko Wisata Narendra Ngunan-unan. Uniknya, menjadi desa wisata tidak pernah direncanakan warga Ngunan-unan sebelumnya.
Penetapan desa wisata pun itu merupakan sebagai bonus dari upaya yang sudah dilakukan sebelumnya. Endartono bercerita tidak ada sama sekali keinginan membuat desa wisata karena memang diinisiasi untuk pemberdayaan masyarakat yang sifatnya produktif hingga bisa menggeliatkan perekonomian.
Dia menuturkan, memang sejak awal pemberdayaannya tersebut berbasis lingkungan seperti yang sekarang sudah dilakukan.
“Akademisi mengarahkan untuk menjadi wisata edukasi kami tidak ada cita-cita untuk wisata spontan saja sehingga seperti sekarang,” tuturnya. Menurutnya sekarang menjadi berkah tersendiri bagi warganya karena setiap ada kunjungan banyak masyarakatnya terdampak secara ekonomi. Kunjungan wisatawan terkadang membuat warga Ngunan-unan terkadang memproduksi makanan sebagai konsumsi selama pembelajarannya. (rul/pra)
Editor : Heru Pratomo