RADAR JOGJA - Bencana kekeringan sering dijumpai di Kabupaten Gunungkidul. Sumber air yang minim bahkan sulit tentunya berdampak pada lahan pertanian. Gagal panen kian menghantui para petani sepanjang musim kemarau melanda.
Tapi tidak bagi petani di Desa Wisata Bendung, Kapanewon Semin, Gunungkidul. Meskipun musim kemarau, para petani di daerah itu tetap menanam dan memanen. Bagi mereka, krisis air bukanlah suatu alasan untuk tidak produktif.
Trik yang digunakan untuk menanam di tengah krisis air menjadikan Desa Wisata Bendung kerap dijumpai wisatawan dari luar daerah. Hal itu lah yang menjadi alasan Kalurahan Bendung ditetapkan sebagai Desa Wisata dengan menyajikan agrowisata yang menarik.
Desa Wisata Bendung merupakan salah satu wilayah yang mengalami kesulitan air. Berada jauh dari sungai dan minimnya mata air membuat daerah tersebut mengalami krisis air.
Baca Juga: Mitos Banaspati: Hantu Api Penjaga Hutan yang Menakutkan dari Jawa dan Kalimantan
Lurah Bendung Didik Rubianto mengatakan, Kalurahan Bendung ditetapkan sebagai desa wisata oleh Bupati Gunungkidul pada 2022 lalu. Bukan karena wisata alamnya, penetapan didasari atas agro wisata yang menyajikan cara-cara menanam bahan pangan di tengah krisis air.
"Satu-satunya potensi daerah kami ialah lahan pertanian agar tetap surplus dengan memanfaatkan sumber air yang terbatas," ujar Didik kepada Radar Jogja, Jumat (20/9).
Pada Tahun 2022, lanjut Didik, Kalurahan Bendung mendapatkan kucuran anggaran dari Gubernur DIY melalui Dana Keistimewaan. Mewujudkan program ketahanan pangan dengan slogan Lumbung Mataraman. Memanfaatkan lahan Tanah Kas Desa (TKD) seluas 1,5 hektar untuk pertanian, tentunya dilengkapi dengan pelatihan sumber daya manusia.
Didik menjelaskan, pemanfaatan air yang minim untuk lahan pertanian menggunakan teknologi untuk menghemat air. Selain itu juga, pemanfaatan olahan limbah ternak menjadi pupuk fermentasi baik cair dan padat. Sedangkan pakan ternak, berasal dari limbah-limbah pertanian.
"Saling terintegrasi antara pertanian dan peternakan, hal itulah yang menjadi daya tarik wisatawan, apalagi daerah kami dikenal dengan kekeringannya tapi tetap pertanian tetap subur," lanjutnya.
Pada musim kemarau, para petani akan menanam tanaman palawija seperti bawang, kedelai, cabai dan lain-lain. Memasuki musim penghujan, tanaman padi dan jagung turut ditaman. Sebab, air hujan merupakan sumber air utama untuk mengairi sawah.
Baca Juga: Ngangkring Artfes 2024: Festival Angkringan Terbesar Se-Indonesia Digelar Di Jogja Expo Center
Pada 2023 kemarin, kata Didik, wisatawan yang tercatat berkunjung mencapai puluhan ribu kali kunjungan. Baik dari akamedisi maupun kelompok tani dari luar daerah yang hendak melakukan studi tiru.
"Pengunjung berasal dari Jawa, Kalimantan, Bali hingga Maluku, tahun kemarin pengunjung mencapai 19 ribu orang," tuturnya.
Wisata edukasi pertanianlah yang mengundang orang-orang luar daerah untuk menyaksikan langsung cara menanam meskipun di tengah krisis air. Menurutnya, hasil tani dari Desa Wisata Bendung 80 persen didistribusikan ke pasar-pasar kapanewon setempat.
"Alasan dari para petani tetap mau menanam meskipun di tengah kekeringan karena warisan budaya yang sudah diterapkan secara turun-temurun, dengan keterbatasan yang ada kami akan terus mengembangkan cara-cara untuk mempertahankan pertanian di tempat kami," tuturnya.
Lebih lanjut, Desa Wisata Bendung juga menjadi lokasi peringatan Hari Pariwisata dengan tema Gunungkidul Tourism Fest (GTF) pada (21/9) kemarin. GTF juga diharapkan dapat mendongkrak wisatawan di Gunungkidul. (ndi)