RADAR JOGJA - Bugenvil atau sering dikenal dengan bunga kertas memiliki kharisma tersendiri bagi para pecintanya. Di Kabupaten Purworejo, ada satu desa yang dikenal sebagai Kampung Bunga Bugenvil. Di mana dan apa yang menarik dari kampung ini?
Kampung Bunga Bugenvil ada di Desa Tunjungan, Kecamatan Ngombol. Di desa ini terdapat 28 green house yang semuanya membudidayakan bunga bugenvil. Kampung ini sekaligus menjadi wadah para pemuda untuk berkarya dan menghasilkan pundi-pundi rupiah.
Ketua Pengelola Desa Wisata Tunjungan Ihsanudin, 52, menyebut Kampung Bunga Bugenvil sudah ada sejak 10 tahun lalu. "Bermula dari sebuah inisiatif sederhana karena banyak warga yang menanam macam-macam tanaman hias di pekarangan rumah masing-masing," ujarnya Senin (9/9).
Baca Juga: Baru Dilantik 26 Agustus 2024, Grengseng-Sahid Ajukan Surat Pengunduran Diri sebagai Anggota Dewan
Berjalannya waktu, tanaman hias itu justru menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan atau masyarakat yang melintas. Semakin lama warga banyak yang menanam bugenvil sampai akhirnya desa ini dikenal dengan julukan Kampung Bunga Bugenvil.
"Dari situ dijadikanlah peluang usaha oleh masyarakat khususnya para pemuda," sebutnya. Mereka kemudian membuka green house untuk melayani wisatawan yang datang. Pun, memanfaatkan media sosial (Tiktok) untuk berjualan secara online.
Ternyata strategi itu sangat efektif dan membuahkan hasil. Pemasaran tanaman budi daya mereka mulai dipasarkan hingga luar Purworejo, bahkan ke penjuru Nusantara.
"Kami pasarkan melalui live. Sekali live bisa terjual puluhan batang bunga bugenvil. Itu dari satu akun saja, padahal di sini banyak sekali pemuda yang live," terang Ihsanudin.
Harga yang ditawarkan juga sangat bervariasi, tergantung dari besar kecilnya batang tumbuhan itu, mulai Rp 50 ribu sampai Rp 200 ribu. Bahkan kalau memiliki biasan sebanyak 200 sampai 250 jenis, biasa sampai Rp 1 juta per batang.
"Bugenvil itu harganya cukup stabil. Modal yang dibutuhkan juga tidak terlalu banyak, sehingga tidak sedikit yang tertarik," ungkapnya.
Baca Juga: Siswa SMPN 1 Jogja Diajak Maknai Keragaman lewat Pameran P5 yang Mengusung Tema Bhinneka Tunggal Ika
Baca Juga: Mengenal Putri Tiara Indriastuti, Guru Bahasa Inggris yang Aktif Memproduksi Konten di Media Sosial
Adapun jenis bugenvil yang ditanam di desa itu ada jenis lokal maupun impor. Koleksi impor biasanya berasal dari Malaysia, Singapura, Thailand, Hawai, dan India. Bunga-bunga jenis ini diklaim lebih menjanjikan karena masih cukup langka di Indonesia.
Salah seorang pemilik green house di Desa Tunjungan yaitu Prapto, 32. Jenis Bugenvil yang dibudidaya seperti jenis fatimah, selendang sutra ungu, ekor musang putih, bengawan solo, dan sebagainya.
Dia mengaku tertarik untuk budi daya bugenvil karena harga relatif stabil dan perawatannya cukup mudah. "Bugenvil juga banyak yang suka," tambahnya.
Biasanya dia memasarkan tanaman hiasannya melalui media sosial Tiktok secara live. Saking banyaknya peminat, Prapto sampai kewalahan memenuhi permintaan pasar. Stok bunga yang dimiliki hampir selalu habis terjual.
"Sekali live bisa terjual 70 batang kecil dan sekitar 35 batang medium. Sebulan omzet yang saya didapatkan bisa Rp 10 juta atau lebih," tandasnya. (laz)
Editor : Heru Pratomo