Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Melihat Terapi Garam di Pantai Jetis Desa Patutrejo, Dipercaya Banyak Manfaat untuk Kesehatan

Jihan Aron Vahera • Minggu, 25 Agustus 2024 | 16:00 WIB
Suasana terapi garam di Pantai Jetis, Desa Patutrejo, Grabag, Purworejo.JIHAN ARON VAHERA/RADAR JOGJA
Suasana terapi garam di Pantai Jetis, Desa Patutrejo, Grabag, Purworejo.JIHAN ARON VAHERA/RADAR JOGJA

 

RADAR JOGJA - Berkunjung ke Pantai Jetis, Desa Patutrejo, Grabag, Purworejo rasanya belum lengkap jika belum mencoba terapi garam. Terapi garam tersebut dikelola oleh Kelompok Usaha Garam Rakyat (Kugar) Pendowo Limo.


Ketua Kelompok Kugar Pendowo Limo Desa Patutrejo Marsino, 53, menyebutkan, terapi garam tersebut ada sejak 2019 akhir. "Sebenarnya awalnya membuat produksi garam konsumi, hanya dalam perjalanan terus berkembang memproduksi tidak hanya garam konsumsi saja termasuk garam terapi," ujarnya Jumat (16/8).

Suasana terapi garam di Pantai Jetis, Desa Patutrejo, Grabag, Purworejo.JIHAN ARON VAHERA/RADAR JOGJA
Suasana terapi garam di Pantai Jetis, Desa Patutrejo, Grabag, Purworejo.JIHAN ARON VAHERA/RADAR JOGJA


Dikatakan, garam yang diproduksi di Desa Patutrejo memiliki kualitas lebih unggul ketimbang garam lainnya. Yakni, memiliki kadar Natrium Clorida (NACL) cukup tinggi. Mencapai 97,49 persen. Itu menjadi salah satu alasan munculnya ide untuk menjadikan thunel garam di Pantai Jetis sebagai tempat terapi."Awal itu hanya sekitar sembilan thunnel.

Kami tidak pernah hitung setiap ada dana tambah sedikit demi sedikit sampai sekarang sekitar 38-39 lebih thunnel," sebutnya. Setiap thunnel memiliki lebar 3,5 meter dengan panjang 19 meter. Per thunnel kapasitas 20 orang.


Saat terapi, pengunjung harus melepas alas kaki. Untuk durasi, Marsino akui sebenarnya tidak ada batasan durasi. Namun, pihaknya memperingatkan pengunjung agar mereka berhati-hati paling tidak 15 menit. "Untuk mengontrol, karena kalau terlalu lama bisa dehidrasi. Paling bagus datang antara pukul 09.00 - 12.00. Suhu dalam thunnel sekitar 40-47 derajat celcius," ungkap dia.


Mengutip dari beberapa sumber, Marsino menyebut, terapi garam tersebut dipercaya memiliki banyak manfaat. Di antaranya, meredakan stress dan lelah, meredakan penyakit pernafasan, bagus untuk kesehatan kulit, mengatasi masalah tidur, hingga mengurangi masalah peradangan.


Rupanya, peminat terapi garam itu cukup tinggi. Pengunjung juga berasal dari daerah dari luar seperti Sumatera dan Sulawesi. Terapi garam di Desa Patutrejo itu juga sering dijadikan sebagai objek penelitian oleh mahasiswa misalnya Universitas Gadjah Mada (UGM).


Buka setiap hari dari pukul 08.00 sampai 14.00. Jumat libur untuk perawatan thunnel garam. “Rata-rata per hari bisa sampai 100 pengunjung," jelasnya. Pengelola sama sekali tidak mematok tarif untuk terapi garam. Namun, pihaknya menyediakan kotak, pengunjung dapat memberikan uang seikhlasnya. (han/pra)

Editor : Satria Pradika
#terapi garam #Pantai Jetis #Kugar Pendowo Limo #Wisata #thunel garam #Purworejo