Namun, masih sedikit yang mengetahui kisah cinta di balik Candi Plaosan.
Komplek Candi Plaosan yang terdiri dari dua bagian utama, Plaosan Lor dan Plaosan Kidul masing-masing menampilkan perpaduan arsitektur Hindu dan Buddha.
Kisah cinta antara Rakai Pikatan dan Pramodhawardhani tidak hanya menginspirasi pembangunan candi ini tetapi juga menjadi bukti bahwa cinta dan toleransi dapat menyatukan perbedaan dan menciptakan warisan budaya.
1. Kisah Bersatunya Dinasti Borobudur dan Prambanan
Candi Plaosan merupakan sebuah bangunan dengan persatuan agama Hindu dan Buddha yang berasal dari kisah Raja Rakai Pikatan ke-enam Kerajaan Mataram Hindu dan Pramodhawardhani permaisuri beragama Buddha.
Rakai Pikatan sendiri masuk pada era Dinasti Sanjaya dengan mengawali dirinya sebagai seorang raja yang membangun candi Prambanan yang bercorak Hindu.
Sedangkan Pramodhawardhani yang berasal dari Candi Borobudur dan masuk pada era Dinasti Syailendra.
Terbentuknya Candi Plaosan masuk pada kisah dimana kedua Dinasti ini bersatu.
2. Lahirnya Kisah Cinta Beda Agama antara Rakai Pikatan dan Pramodhawardhani
Berawal dari Rakai Pikatan yang memiliki ambisi untuk melakukan pendekatan ke Dinasti Syailendra.
Terkhusus kepada Raja Samaratungga, Rakai Pikatan harus menarik simpati dan kepercayaan sang Raja.
Karena dengan demikian, Rakai Pikatan mendapatkan hak untuk membangun Kota Mamwrati.
Satu-satunya cara untuk mendapatkan kepercayaan tersebut dengan memilih Pramordhawardhani dan meyakinkannya untuk menjadi istri Rakai Pikatan.
Pramodhawardhani, seorang putri utama Raja Samaratungga.
Dilansir dari website Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) berdasarkan prasasti Kayumwungan, telah mendirikan bangunan suci Bhumisambhara dan pemeliharaan serta pembebasan pajak di tempat tersebut pada Prasasti Tri Tepusan.
Secara tidak langsung, Pramodhawardhani atau dikenal dengan nama Sri Kahulunan telah menjadi perwakilan dari sang ayah untuk melanjutkan tahta.
Perpecahan dinasti dan perbedaan agama tentunya menjadi satu permasalahan bagi Rakai Pikatan untuk terus berusaha.
Rakai Pikatan membutuhkan tekad dan jiwa yang besar untuk mengabdi pada Dinasti Syailendra yang faktanya dulu membuatnya tersingkir.
Begitupun juga dengan Raja Samaratungga yang tidak mudah dan berat untuk menerima Rakai Pikatan dari Dinasti Sanjaya.
Namun pada akhirnya, sang raja pun menerima Rakai Pikatan dengan terbuka.
Karena sang raja sadar bahwa garis nasib sudah ditentukan dan tanda terima pun dilakukan.
3. Simbol perdamaian dan persatuan 2 agama berbeda “Hindu dan Buddha”
Candi Plaosan dibangun sebagai bukti bahwa cinta dan ketulusan dapat menyatukan sebuah perbedaan.
Bukan hanya simbol persatuan 2 wangsa besar antara Syailendra dan Sanjaya, akan tetapi menjadi simbol toleransi antar umat beragama.
Karena Candi Plaosan dibangun untuk permaisuri Pramodhawardhani yang beragama Buddha oleh Raja Rakai Pikatan yang beragama Hindu.
Disebutkan juga bahwa Candi Plaosan adalah wujud toleransi masyarakat Nusantara sejak zaman dahulu, dan percandian Mataram Kuno abad ke-9 didirikan bergotong royong.
Di mana pembangunan dilakukan oleh maharaja yang beragama Buddha Mahayana, namun candi kecilnya dibangun oleh raja beragama Hindu,"
Pada sejumlah batu terdapat inskripsi singkat.
Di belakang candi perwara terdapat tulisan berbunyi Anumoda Sang Sirikan Pu Surya yang berarti “hadiah dari Sirikan – Pu Surya”.
Terdapat juga tulisan Anumoda Sri Kahulunan “hadiah Sri Baginda Putri”.
Menurut dua tulisan lain, Sri Kahulunan adalah putri raja dalam sebuah prasasti tahun 842 Masehi yaitu putri Raja Syailendra Pramodhawardhani, putri raja wangsa penganut Buddha yang menikah dengan Rakai Pikatan dari wangsa Sanjaya beragama Hindu Siwa.
Gunawan (51) Juru Pelihara Candi Plaosan selama 22 tahun mengungkapkan bagaimana akhirnya dua agama tersebut bersatu dalam jalinan pernikahan dan akhirnya terciptalah bangunan Candi Plaosan ini.
“Makanya kenapa di Plaosan ada 2 candi kembar dan ada hindu buddha karena peninggalannya, sebenarnya candi ini fokusnya ke Buddha. Akan tetapi, dulu ceritanya pernikahan beda agama antara Borobudur dengan Prambanan. Pihak laki-laki, Raja Pikatan beragama Hindu dari Prambanan, sedangkan pihak Perempuan Pramodhawardhani beragama Buddha dari Borobudur. Akhirnya jadi Plaosan ini, makanya sama nenek moyang sudah dibikin relief, stupa dan gambar-gambar ini sudah ada persatuan dua agama Buddha dan Hindu.”
Kisah ini bukan hanya tentang perasaan antara dua orang, tetapi juga tentang bagaimana cinta dapat menginspirasi penciptaan keindahan dan kedamaian yang abadi juga membangun peradaban.
Candi Plaosan adalah bukti persatuan cinta dua agama dengan segala keindahan dan keagungannya, berdiri sebagai monumen bukti cinta yang abadi.
Sehingga menjadi pengingat bahwa kekuatan cinta, usaha dan ketulusan yang dapat menyatukan perbedaan dan menciptakan keharmonisan dalam beragama, budaya dan masyarakat.
Penulis: Jaiz Setya Nurjati
Editor : Bahana.