RADAR JOGJA - Di kota Yogyakarta, terdapat sebuah tempat menarik yang menyimpan dan memamerkan kekayaan sejarah.
Tempat tersebut bernama Diorama Arsip Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dikelola oleh Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY.
Di sini, memamerkan berbagai diorama menarik yang menggambarkan peristiwa-peristiwa penting di masa lalu.
Diorama ini berada di Gedung DPAD DIY, Jalan Raya Janti Lantai 1, Wonocatur, Banguntapan, Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul.
Ada 18 ruangan di diorama ini, setiap ruangan menceritakan sejarah daerah istimewa Yogyakarta dari era kebangkitan dan kejayaan Mataram hingga era istimewa Yogyakarta.
Pada museum diorama ini banyak menggunakan teknologi-teknologi terkini dan memukau seperti hologram, fogscreen dan Augmented Reality (AR).
Jika mengunjungi ke diorama ini kamu akan dipandu oleh pemandu yang ada di sana.
Salah satu yang sangat menarik perhatian dari Diorama ini adalah visual yang ditampilkan sangat memukau dan memanjakan mata.
Kita akan ditampilkan visual diorama yang menceritakan mengenai sejarah Yogyakarta, seperti "Diorama Mataram" yang menggambarkan kehidupan di Kerajaan Mataram, serta "Diorama Yogyakarta Tempo Dulu" yang memperlihatkan suasana kota Yogyakarta di masa lalu dan masih banyak lagi.
Pemesanan tiket diorama bisa kamu lakukan dengan reservasi di webnya atau langsung datang ke sana dengan jadwal sesi yang tersedia.
Harga tiketnya sendiri untuk anak diatas 7 tahun berkisar dari Rp20.000 untuk pelajar perorangan, Rp 30.000 untuk umum perorangan dan Rp 100.000 untuk wisatawan asing.
Bagi kamu yang ingin meliput untuk dijadikan konten seperti Vlog atau konten Youtube dikenakan harga Rp 250.000 per sesi.
Diorama Arsip Yogyakarta buka setiap hari Selasa-Minggu pukul 09.00-14.20. Sementara, diorama ini tutup operasional pada hari Senin dan libur nasional.
Dengan adanya diorama-diorama ini, Dinas Perpustakaan dan Arsip DIY tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan arsip, tetapi juga sebagai pusat edukasi sejarah yang menarik bagi masyarakat, khususnya generasi muda.
Pengunjung dapat belajar sambil menikmati keindahan dan kekayaan sejarah Yogyakarta. (Akmal Haidar Alfath)
Editor : Winda Atika Ira Puspita