Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

5 Tempat Peninggalan Era Kolonial Belanda Terpenting di Yogyakarta

Meitika Candra Lantiva • Kamis, 20 Juni 2024 | 21:47 WIB
Benteng Vredeburg.
Benteng Vredeburg.
 
RADAR JOGJA – Yogyakarta, sebagai salah satu kota bersejarah di Indonesia, memiliki banyak situs peninggalan Belanda yang menjadi saksi bisu masa kolonial. 
 
Beberapa dari tempat ini masih berdiri kokoh dan difungsikan. 
 
Berikut adalah lima tempat bersejarah penting dari era kolonialisme Belanda yang patut dikunjungi:
 
1. Benteng Vredeburg
 
Benteng Vredeburg, yang terletak di Kawasan Malioboro, dibangun pada tahun 1765 oleh Belanda untuk mengawasi Keraton Yogyakarta. 
 
Baca Juga: Profil Fardan Ary Setyawan: Dituduh Pemain Titipan, Ternyata Punya Segudang Prestasi
 
Pendirian Benteng Vredeburg memiliki kaitan erat dengan kelahiran Kesultanan Yogyakarta itu sendiri. 
 
Perjanjian Giyanti 13 Februari 1755 yang berhasil mengakhiri perseteruan antara Susuhunan Pakubuwono III dengan Pangeran Mangkubumi (yang kelak menjadi Sultan Hamengkubuwono I) merupakan hasil politik dari Belanda yang selalu ingin ikut campur urusan dalam negeri raja-raja Jawa pada saat itu. 
 
Benteng ini awalnya bernama Rustenburg, yang berarti “banteng peristirahatan” dan lalu berganti nama menjadi Vredeburg, yang berarti “benteng perdamaian’. 
 
Kini, Benteng Vredeburg menjadi museum yang menyimpan berbagai diorama dan artefak sejarah perjuangan Indonesia. 
 
Baca Juga: Ini yang Wajib Kamu Tahu Sebelum Menyaksikan Prambanan Jazz 2024
 
2. Taman Sari
 
Taman Sari, atau dikenal dengan “Istana Air” merupakan kompleks yang dibangun pada masa Sultan Hamengkubuwono I pada tahun 1758-1765, yang menurut legenda, salah satu arsiteknya adalah seorang Portugis dengan panggilan Demang Tegis. 
 
Fungsi utamanya adalah sebagai tempat rekreasi dan meditasi bagi keluarga kerajaan, sekaligus banteng pertahanan.
 
Situs ini memiliki kolam pemandian, taman, dan terowongan bawah tanah yang menunjukkan pengaruh arsitektur zaman kolonial.
 
3. Gedung Agung
 
Gedung Agung, yang terletak di Jalan Ahmad Yani, merupakan salah satu dari enam istana kepresidenan di Indonesia.
 
Baca Juga: Miris! Begini Kronologinya, Mahasiswi di Magelang Melahirkan Sendiri dan Buang Bayinya ke Tempat Sampah
 
Dibangun pada tahun 1824 dan diprakarsai oleh Anthony Hendriks Smissaerat, gedung ini berfungsi sebagai kediaman resmi Gubernur Belanda di Yogyakarta. 
 
Karena adanya Perang Diponegoro atau Perang Jawa (1825-1830) pembangunan gedung itu pun ditunda. 
 
Pembangunan kemudian kembali diteruskan setelah perang berakhir dan selesai pada 1832. 
 
Pada 10 Juni 1867, kediaman resmi untuk residen Belanda itu ambruk karena gempa bumi. Bangunan baru pun didirikan dan selesai pada 1869. 
 
Setelah kemerdekaan, Gedung Agung digunakan sebagai Istana Presiden saat Yogyakarta menjadi ibukota sementara Indonesia dari 4 Januari 1946 hingga tanggal 27 Desember 1949. 
 
Baca Juga: Viral! Duta Sheila On 7 Salat Idul Adha di Ganjuran: Sikap Ramahnya Disorot Netizen
 
Kini, gedung ini masih digunakan untuk acara kenegaraan.
 
4. Stasiun Tugu
 
Stasiun Tugu merupakan salah satu stasiun kereta api tertua di Indonesia, dibangun pada tahun 1887 oleh perusahaan kereta api Hindia Belanda. 
 
Stasiun ini menjadi pintu gerbang utama bagi wisatawan untuk datang ke Yogyakarta. 
 
Dengan perpaduan arsitektur khas kolonial dan art deco, yang populer pada Perang Dunia II, Stasiun Tugu masih berfungsi hingga kini dan menjadi saksi bisu perkembangan transportasi kereta api di Indonesia.
 
Baca Juga: Begini Klarifikasinya! Selebgram Teyeng Wakatobi Minta Maaf atas Konten Video Kontroversial Sukolilo Bos, Jangan Main Main
 
5. Kotabaru
 
Kotabaru adalah Kawasan pemukiman yang dibangun pada awal abad ke-20 untuk warga Eropa. 
 
Kawasan ini dikenal denga jalan-jalan lebar yang diapit pepohonan rindang dan rumah-rumah bergaya kolonial. 
 
Beberapa bangunan penting di Kotabaru termasuk Gereja Katolik Santo Antonius atau dalam bahasa Belanda disebut Nieuw Wijk Katholieke Kerk yang kala itu dibangun untuk memenuhi kebutuhan relijius warga keturunan Belanda atau Eropa yang menganut Katolik dan Gedung Selo, yang masih mempertahankan keaslian arsitekturnya. (Rinda Martisa Fiorentina)
Editor : Meitika Candra Lantiva
#Yogyakarta #Benteng Vredeburg #Jogja