RADAR JOGJA – Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta telah dibuka kembali untuk umum setelah menjalani proses revitalisasi.
Terletak di Titik Nol Kilometer Yogyakarta, bangunan bersejarah ini, yang merupakan bagian dari Indonesian Heritage Agency (IHA), kini menghadirkan pengalaman interaktif, edukasi, dan hiburan bagi pengunjung.
Pembukaan ini menandai awal dari era baru bagi museum ini, menjadikannya pusat edukasi sejarah dan budaya, serta tempat rekreasi untuk anak muda dan keluarga.
Setelah proses peremajaan, Museum Benteng Vredeburg kini menampilkan pameran sejarah dengan diorama dan tampilan yang lebih interaktif.
Pengunjung dapat menikmati diorama digital dan berbagai atraksi lainnya.
Selain itu, taman patriot dan edupark juga telah direvitalisasi, memberikan ruang terbuka bagi pengunjung untuk menikmati.
Pengembangan fasilitas meliputi penambahan ruang anak dan taman bermain, menjadikan museum ini nyaman dan edukatif bagi anak-anak.
Tak hanya itu, kawasan Bastion yang mengarah ke Titik Nol Kilometer juga telah direvitalisasi untuk dinikmati oleh publik.
Pengunjung juga dapat menikmati beragam kuliner di cafe Rustenburg, food court, dan mini market.
Museum Benteng Vredeburg juga menawarkan pengalaman wisata malam yang menyenangkan, termasuk pertunjukan air mancur menari dan video pemetaan sejarah bangunan museum.
Edukator Museum Benteng Vredeburg, Andi Arif Mulya, mengungkapkan bahwa pembaharuan ini bertujuan untuk memberikan pengalaman interaktif yang lebih baik kepada pengunjung, dengan harapan mereka tidak hanya mendapatkan edukasi, tetapi juga hiburan.
Mulai tanggal 8 Juni 2024, museum ini akan beroperasi setiap hari dengan jam buka yang diperpanjang, memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk mengeksplorasi lebih banyak.
Karena baru dibuka kembali, pengunjung dapat masuk secara gratis hingga 14 Juni 2024.
Dengan segala pembaruan dan fasilitasnya, Museum Benteng Vredeburg siap menyambut pengunjung dengan pengalaman yang menarik dan edukatif, menjadikannya destinasi wajib di DIY bagi masyarakat dan wisatawan.
Editor : Bahana.