RADAR JOGJA - Masjid Selo bisa jadi salah satu opsi wisata religi yang bisa dipilih para pelancong jika bertandang ke Yogyakarta. Masjid yang berlokasi di Panembahan ini dibangun pada era Raja Keraton Yogyakarta Sri Sultan HB I, tepatnya tahun 1709 Caka.
Panembahan sendiri dulunya merupakan dalem milik Pangeran Adipati Anom atau putra mahkota (Calon Hamengku Buwono II). Karena itulah, masjid ini hanya dikhususkan untuk keluarga bangsawan.
Bangunan asli dari dalem sendiri sekarang telah tiada dan yang tersisa hanya tinggal Masjid Selo ini dan sepasang gapura di selatan Plengkung Tarunasura.
“Dulu juga sempat dipakai sebagai tempat peti jenazah, bapak saya dulu juga pengurus,” ujar pengurus masjid Andar Praptomo Kamis (30/5).
Baca Juga: Masjid Selo, Dibangun 1789 Era Sri Sultan Hamengku Buwono I
Masjid Selo sendiri berarti masjid batu. Ketebalan temboknya, bahkan mencapai 75 cm. “Saya pernah natah bagian bawahnya dan beneran keras,” tuturnya kala ditemui di lokasi.
Andar sehari-hari membersihkan masjid, mengumandangkan azan, bahkan kerap menjadi imam. Ia menjelaskan bahwa bangunan asli masjid masih utuh.
“Wisatawan jarang, soalnya agak jauh dari jalan. Plangnya juga kurang besar,” ujar Andar.
Ia turut menjelaskan bahwa halaman depan masjid dulunya merupakan kolam. Namun, kini kolam tersebut sudah tidak ada.
Ketua Takmir, Heru Susanto menjelaskan beberapa kegiatan yang digelar di Masjid Selo. Mulai dari salat lima waktu, kajian setelah Subuh tiap Selasa, kajian Ramadan, hingga pengajian persiapan sebelum ada warga yang akan berangkat haji.
“Kita mau renovasi, tapi ini cagar budaya. Jadi tidak boleh serta merta,” ujar Heru.
Heru menjelaskan bahwa ada beberapa bagian genteng yang bocor dan banyak rayap. Dirinya mengaku sudah memasukan surat dan izin ke keraton. Untuk bangunan baru yang berada di bangunan asli juga telah melalui proses serupa.
Ia turut menjelaskan jika kini keluarga keraton sendiri jarang beribadah di Masjid Selo. Untuk takmir juga bukanlah abdi dalem dan hanya terdiri dari masyarakat sekitar.
“Semoga dakwah dengan kesantunan serta budaya bisa dikemas maksimal. Agar jadi masjid yang bertauhid, ramah lingkungan, ruang pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat,” harap Heru.
Editor : Heru Pratomo