RADAR JOGJA - Potensi agrowisata di Kulon Progo memiliki pesonanya tersendiri. Salah satunya Agro eduwisata Watu Gajah yang terletak di Kalurahan Gulurejo, Kapanewon Lendah. Seperti namanya Watu Gajah, di agrowisata tak hanya menghampat pohon buah.
Namun banyak bantuan kars dengan ukuran jumbo yang mempercatik pemandangan. "Kami menawarkan beberapa paket wisata untuk pengunjung yang datang," ucap Pengelola Agrowisata Watu Gajah Samidi, Jumat (10/5).
Samidi menjelaskan, agrowisata menawarkan beberapa paket wisata. Antara lain wisata petik buah, wisata kuliner, dan wisata hiburan untuk keluarga.
Tentunya paket wisata yang ditawarkan sangat ramah dengan kantong pengunjung. Sehingga pengunjung tak perlu khawatir, karena kawasan agrowisata tak banyak menarik retribusi.
Di Watu Gajah, wisata unggulan yang kerap kali dituju pengunjung adalah wisata petik buah. Untuk masuk ke dalam area agrowisata pengunjung tak dikenai tarif masuk. Tarif akan dikenai ke pengunjung apabila pengunjung membawa pulang buah yang dipetik.
Terdapat dua komoditas tanaman buah disana, yaitu anggur dan kelengkeng. Ada 250 pohon kelengkeng terhampar di agrowisata yang bisa dipetik setiap saat oleh pengunjung. Nantinya pengunjung akan didampingi instruktur untuk memetik.
Instruktur pendamping akan membantu pengunjung dalam mensortir buah yang layak di bawa pulang dan dikonsumsi. Tak hanya itu bagi pengunjung wisata dengan minat khusus dibidang pertanian.
Instruktur pendamping juga akan mengajarkan cara berbudidaya tanaman buah. "Setelah memetik buah, pengunjung membawa ke tempat penimbangan, kelengkeng Rp 40 ribu per kg," ucap Samidi.
Apabila pengunjung tertarik untuk berswafoto, agrowisata ini juga memiliki spot foto epik. Di antaranya tugu buah berbentuk kelengkeng dan anggur. Ada juga tugu Lumbung Mataraman menjadi spot foto banyak pengunjung.
Setelah puas berkeliling agrowisata. Pengunjung dapat beristirahat dan menikmati kuliner yang dijajakan warga sekitar. Banyak jajanan pasar yang dijual belikan warga sekitar.
Terutama jajanan yang sulit ditemui saat ini karena hanya dapat dijumpai sewaktu kecil dahulu. Dengan menikmati kuliner pengunjung dapat sekaligus bernostalgia mengenang masa lalu.
"Pengelolaan agrowisata berbasis kelompok, orientasinya fokus pada edukasi budidaya tanaman buah," tutur Samidi.
Samidi menjelaskan, sejak awal berdirinya agrowista tak hanya berorientasi pada bisnis. Namun berorientasi edukasi pada masyarakat mengenai potensi tanaman buah.
Dibukanya agrowisata di 2020 lalu dipunggawai oleh 20 petani tanaman buah. Karena kesamaan visi, mereka membuat agrowisata dengan tujuan edukasi. Adanya agrowisata ini tentu didukung pemerintah, dengan oenggelontoran dana istimewa.
Evi salah satu pengunjung agrowisata cukup menikmati kunjungannya di agrowisata. Dirinya menyempatkan berkeliling dan swafoto di sekitar agrowisata. Tak lupa menyempatkan foto di spot ikonik agrowisata
."Suasana menarik, bisa menjadi alternatif wisata bagi masyarakat," ucapnya.
Evi menjelaskan, ketertarikan mengunjung agrowisata karena dapat merasakan sensasi memetik buah sendiri.
Pengunjung juga dpat langsung memakan buah tepat dibawah pohonnya. Selain itu, terjangkaunya tarif agrowista menjadi pertimbangannya juga. (gas/pra)
Editor : Heru Pratomo