Sebab nantinya sandal tersebut akan digunakan wisatawan yang hendak naik ke struktur Candi Borobudur.
Terlebih, PT Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko memprediksi ada kenaikan jumlah kunjungan di Candi Borobudur.
Setidaknya ada sekitar 97.400 wisatawan yang bakal berkunjung ke sana.
Seorang perajin sandal upanat di Desa Borobudur Basiyo mengaku bersyukur dengan peningkatan produksi tersebut.
Hanya saja, sistem pemesanan itu diperoleh melalui Badan Usaha Milik Desa Bersama (BUMDesma) Kecamatan Borobudur.
Basiyo biasa mendapatkan pesanan sebanyak 200 pasang setiap minggunya.
Namun, untuk persediaan masa ramai Lebaran, dia menerima dua kali pesanan dalam satu minggu.
"Satu minggu ini, saya menerima dua purchase order (PO), jadinya 420 pasang (sandal upanat)," katanya, Minggu (7/4/2024).
Kenaikan jumlah pesanan tersebut dirasakan mulai minggu keempat Ramadan.
Itu berarti, dia sudah menyetorkan sebanyak 600 pasang sandal upanat selama tiga pekan.
Sandal itu dikhususkan bagi wisatawan yang hendak naik ke struktur Candi Borobudur.
Selain dirinya, di Kecamatan Borobudur ada sekitar 41 perajin sandal upanat. Basiyo menjadi pionir dari pembuatan sandal tersebut.
"Pada 2022, ada pesanan sandal upanat untuk uji coba naik candi. sekitar 200-300 pasang. Dan mulai diproduksi massal pada awal 2023," sebutnya.
Untuk memenuhi pesanan tersebut, dia dibantu 10 pekerja.
Mereka memiliki tugas yang berbeda-beda. Ada yang bertugas melakukan pengeleman, pemotongan, hingga menjahit sandal dan goodie bag.
Untuk proses produksi sendiri, dalam sehari bisa menghasilkan 100 sampai 150 pasang. Sedangkan bahan bakunya diperoleh dari Bumdes.
"Kan sudah ada yang mengerjakan sendiri-sendiri, kalau dimaksimalkan 150. Minimal ya 100 (pasang)," ujar dia.
Adapun ukuran sandal upanat yang diproduksi, bervariasi.
Tersedia mulai ukuran 31 hingga 46. Dari perajin, swpasang sandal upanat dibanderol dengan harga Rp 34 ribu.
Jika dibandingkan dengan Lebaran tahun lalu, kata Basiyo, jumlah pesanannya saat ini mengalami peningkatan.
Dulunya seminggu hanya produksi sekitar 100-200 pasang sandal. Sedangkan tahun ini seminggu bisa 400 pasang.
Peningkatan pesanan itu, juga dibarengi dengan naiknya omzet yang didapatkan.
"Pesanan meningkat (Lebaran tahun ini). Omzet juga meningkat. Kalau hari biasa per bulan 800 pasang dapat Rp 24 juta. Kalau sekarang (seminggu) 420 pasang ya Rp 15 juta dari satu perajin," tuturnya.
Editor : Bahana.