RADAR JOGJA - Kabupaten Purworejo terkenal sebagai wilayah penghasil durian. Bahkan, dari 16 kecamatan di Kabupaten Purworejo, sembilan kecamatan di antaranya merupakan daerah penghasil durian. Salah satunya adalah Kecamatan Loano.
Seorang petani durian dari Desa Kaliglagah, Kecamatan Loano, Purworejo, Waridi, 35 mengatakan, di Kecamatan Loano banyak desa yang menghasilkan durian seperti Desa Kaliglagah, Tridadi, Ngargosari, Banyuasin Kembaran, Karangrejo, dan Kalisemo. "Untuk Desa Kaliglagah sendiri, 80 persen warganya memiliki pohon durian," katanya Kamis (25/1).
Bahkan, kata Waridi, saat musim panen, Desa Kaliglagah bisa menghasilkan 3.000 sampai 5.000 butir durian. "Setiap kali jatuh per hari rata-rata segitu. Kalau cirinya, rasa ada manis ada pahit, besarnya ideal, durinya tidak begitu rinci," ucap dia.
Disebutkan, petani durian di desanya sebagai besar masih memanen secara alami atau tidak menggantung buah durian dengan tali. Jadi, membiarkan durian jatuh begitu saja. "Setiap pagi saat musim durian, para petani akan mencari durian-duriannya," sambung dia.
Dia menceritakan, sebagian besar pohon durian di Desa Kaliglagah sudah berumur tua sekitar 30 tahun sampai 150 tahun. Menurutnya, pohon-pohon durian di sana sebagian besar sudah tinggalan dari nenek moyang. Jenis duriannya adalah lokal unggul.
"Kalau milik saya ada yang premium seperti pohon durian musang king, bawor, duri hitam, super tembaga, masih proses pertumbuhan pohonnya, belum berbuah. Kurang lebih umur empat tahun," lanjutnya.
Diungkapkan, di Kecamatan Loano sendiri, musim durian rata-rata dimulai pada November-Desember. Setiap desa punya ciri masing-masing, karena tanah mempengaruhi rasa, aroma, dan sebagiannya.
Menurut Waridi, di desanya masih ada yang merawat pohon durian secara natural tanpa pupuk kimia. Yakni, hanya mengandalkan pupuk organik dari kandang saja. Namun, dia selama ini setiap habis panen, merawat pohon durian dengan memberi pupuk kandang dan pupuk NPK khusus pohon durian.
Sebab, saat musim penghujan seperti sekarang ini, jika tidak diperlakukan lebih hasilnya akan kurang bagus. Rasanya jadi kurang enak. "Kalau panen awal musim hujan atau musim kemarau rasanya manis dan aroma lebih menyengat. Kalau kemarau ketebalannya kurang tapi rasanya manis, tapi kalau musim hujan rasa kurang manis tapi tebal," jelasnya.
Selama ini, dia selalu memperlakukan pohon-pohon duriannya dengan baik. Setiap panen, biasanya dia akan menjual ke daerah Jogjakarta atau ada tengkulak dari Jogjakarta yang ambil di tempatnya. "Saya jual grosir juga harga mulai Rp 10 ribu hingga Rp 50 ribu tergantung ukuran. Garansi juga," tandasnya. (han/pra)
Editor : Heru Pratomo