Tren Runcation Bawa Angin Segar bagi Pariwisata Jogja, Berdampak Bagus Pada Resto-Cafe

Iwan Nurwanto • Dipublikasikan Sabtu, 17 Oktober 2026 | 08:23 WIB
Runcation, tren memadukan olahraga lari dengan wisata. Tak sekadar menjaga kebugaran, aktivitas ini juga menjadi cara menikmati suasana kota, mengeksplorasi destinasi lokal, hingga menghabiskan waktu bersama keluarga. GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
Runcation, tren memadukan olahraga lari dengan wisata. Tak sekadar menjaga kebugaran, aktivitas ini juga menjadi cara menikmati suasana kota, mengeksplorasi destinasi lokal, hingga menghabiskan waktu bersama keluarga. GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA

JOGJA - Tren runcation dan gaya hidup aktif mulai membawa dampak positif bagi sektor pariwisata Jogjakarta. Sejumlah wisatawan menyempatkan diri berlari atau berjalan kaki ke kawasan Malioboro sebelum sarapan di hotel, sementara pelaku industri perhotelan mulai beradaptasi melalui ajang lari lokal hingga paket wisata berbasis kebugaran dan budaya.

Wakil Sekretaris Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY Wahyu Wikan Trispratiwi mengatakan, meski wisatawan dengan kriteria tersebut jumlahnya masih tergolong sedikit, tren tersebut tetap berdampak langsung pada sektor pendukung seperti restoran dan kafe. Banyak pelancong yang menghabiskan waktu untuk bersantai di kedai kopi usai merampungkan aktivitas olahraga pagi mereka.  

“Salah satu yang saya lihat, trennya sekarang, setiap pagi mereka sempatkan untuk jalan kaki atau lari ke Malioboro sebelum sarapan. Jadi setelah itu kembali ke hotel, sarapan, ini lifestyle, bukan karena ada event, tapi karena menjadi suatu kebiasaan," ujar Wikan kepada Radar Jogja, Jumat (9/10/2026).

Baca Juga: Adrian Purczycki Rasakan Roller Coaster di Awal Kariernya dengan PSIM; Cetak Gol hingga Kartu Merah

Wikan menjelaskan, aktivitas olahraga mulai menjadi gaya hidup pascapandemi. Bahkan saat ini juga telah menjadi kebiasaan wisatawan yang berkunjung ke Jogjakarta.  Melihat tingginya antusiasme masyarakat terhadap gaya hidup aktif ini, para pelaku industri pariwisata dan perhotelan di Jogjakarta mulai beradaptasi.

Wikan menyebut beberapa hotel mulai turut meramaikan tren kebugaran dengan menyelenggarakan ajang lari mandiri berskala lokal seperti kategori lima kilometer (5K) atau sepuluh kilometer (10K).

Selain itu, PHRI DIY juga mencatat beberapa hotel juga mulai menghadirkan inovasi paket wisata berbasis kebugaran dan kebudayaan. Misalnya seperti paket heritage walk yang mengemas aktivitas jalan kaki menyusuri warisan budaya, arsitektur bangunan bersejarah, tradisi masyarakat, hingga wisata kuliner di Jogjakarta.  

Baca Juga: Setiap Musim Punya Tantangan Berbeda, Ze Valente Yakin PSIM Punya Kualitas untuk Tampil Lebih Baik

Menurutnya, beberapa event olahraga berskala besar yang rutin digelar dalam beberapa tahun terakhir juga terbukti mampu menarik ribuan peserta dari berbagai daerah. Salah satu contohnya adalah Mandiri Marathon, dampak ekonomi event luar biasa bagi industri pariwisata karena mampu mendatangkan ribuan tamu dari luar daerah dan mancanegara.

“Kalau untuk lari sendiri (di luar event) yang datang ke hotel di Jogja saya belum bisa melihat, mungkin ada, tapi mungkin masih sangat-sangat sedikit. Yang terlihat kalau ada event besar,” bebernya. (inu/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
Tren Runcation angin segar daya tarik baru phri diy pariwisata jogja