KULON PROGO - Di era industri televisi yang belum menjamur seperti sekarang, sajian tontonan keluarga kerap ditunggu-tunggu dan kenangannya selalu melekat di hati. Era 90-an, tontonan Mbangun Desa yang tayang di TVRI menjadi sajian sinetron sekaligus sitkom yang menggambarkan keseharian masyarakat. Dari sinetron itu muncul beberapa pemain seperti Den Baguse Ngarso (Susilo Nugroho) yang menonjol. Namun, ada salah satu pemain bernama Sepnu Heryanto yang menokohkan Kuriman. Walau bukan tokoh utama, kuriman memiliki pembawaan yang menggambarkan wajah sosial masyarakat.Salah seorang penikmat Mbangun Desa, Chris Agung menyampaikan tayangan TVRI selalu dikenang hingga hari ini. Saat masih remaja, Chris selalu menyempatkan untuk menonton serial tersebut. Keunikan serial itu terletak dari latar cerita yang dibawakan. Lantaran latar cerita yang dibawa berisikan konflik sosial di masyarakat, dengan sisipan tuntunan yang mendalam serta dikemas dengan sentuhan komedi.
"Konsep tayangan Mbangun Desa seperti komunikasi publik, tapi dengan kompleksitas sosial masyarakat," ucap Chris, Jumat (2/10/2026).Kekuatan Mbangun Desa terletak pada alur cerita hingga penokohan yang menggambarkan kondisi sosial masyarakat. Penokohan Kuriman paling banyak membuat penonton merasakan kejengkelan, hingga terbawa suasana dalam tayangan. Keberhasilan Sepnu Heryanto menokohkan Kuriman sebagai tokoh yang ngeyelan mampu membuat alur cerita mendalam.Kuriman digambarkan sebagai warga dusun yang memiliki sifat keras kepala dan sulit dinasehati. Sifat dan pembawaan Kuriman terkadang membuat penonton terbawa suasana sekaligus geleng-geleng kepala. Lantaran, sifat keras kepalanya dibumbui dengan sifat emosian dan gampang terpancing ke konflik sosial.
Sifat Kuriman akan jauh berbeda dengan penokohan Sronto. Kuriman dianggap lebih terpelajar, namun memiliki posisi yang gampang terprovokasi oleh sosial. Sedangkan Sronto merupakan warga desa biasa yang lugu dan tak memiliki tuntutan apapun. Alhasil, saat kedua tokoh dipertemukan akan membuat cerita semakin kuat. "Terkadang Kuriman menjadi sumber masalah," ungkapnya.
Sifat pembawaan Kuriman terkadang menjadi sumber masalah tersendiri. Beberapa episode Mbangun Desa, Kuriman kerap menemukan masalah yang justru semakin meluas akibat perilakunya. Bahkan masalah itu, kerap menjadi plot utama cerita.
Namun di balik penokohan Kuriman, sifat-sifatnya kerap menggambarkan kondisi sosial masyarakat. Hal inilah yang membuat Mbangun Desa mudah diterima masyarakat. Sifat keras kepala, dan gampang terpancing emosi tanpa disadari terjadi di masyarakat. (gas/laz)