RADAR JOGJA - Kolongan atau kalangan kerap dijumpai di berbagai wilayah di DIY. Berbentuk seperti kubus dengan pembuatan cukup sederhana membuat fasilitas untuk mendaratkan merpati ini, cukup unik serta mudah dikenang. Bahkan di masa jayanya, kalangan menjadi titik kumpul komunitas merpati hingga masyarakat sekitar.
Penggemar merpati asal Kalurahan Sentolo Ilham Kurniawan mengaku telah mengenal kalangan sebagai tempat bekumpul komunitas merpati sejak dari kecil. Kalangan tak hanya menjadi tempat berkumpul, namun menjadi tempat menghabiskan waktu untuk penggemar merpati sepertinya.
Baca Juga: 193 Karya dari 131 Seniman Disabilitas Dipamerkan di Suluh Sumurup 2026
"Kalangan atau kolongan biasanya tempat berkumpul komunitas, tempat kompetisi hingga sharing antarpenggemar merpati," ucap Ilham, Jumat (25/9).
Ilham menjelaskan, masa kejayaan kolongan ada di tahun 2000-an. Saat itu, hobi memelihara merpati kerap ditemui di berbagai daerah. Dari situlah muncul ide membuat tempat bekumpul komunitas pecinta merpati.
Tak hanya berkumpul, muncul kompetisi yang dapat diikuti oleh penggemar merpati. Dari situlah muncul kalangan sebagai sarana mendarat merpati.
Baca Juga: 1 Tahun 7 Desakan Darurat Ekonomi, Menjaga Kewarasan dan Harapan di Tengah Badai Ketidakpastian
Kalangan berbentuk kubus sederhana, berukuran 8-12 meter tiap sisinya. Di tiap sudutnya dipasang tiang bambu dengan warna cerah, seperti merah putih. Di bagian atas, antara tiang biasanya dihubungkan dengan tali penuh ornamen seperti bendera atau botol. Bentuk yang sederhana ini, justru terlihat mencolok dan gampang ditemukan oleh merpati.
Proses pembuatan kalangan biasanya hanya memakan waktu beberapa hari. Namun titik lokasi pemasangan kolongan harus mempertimbangkan beberapa aspek. Paling utama, lokasi harus terbuka dan tak terhalang pohon. Tujuannya, agara merpati yang sedang terbang tinggi dapat langsung menemukan tempat mendarat.
Baca Juga: Warung Indo dan Kesegaran Aqua dalam Penampilan Dance SMA 1 Kalasan
Selain itu, arah pemasangan sisi kolongan harus tegak lurus dengan lokasi penerbangan merpati. Biasanya merpati diterbangkan di jarak 800 meter hingga satu kilometer. Sehingga, pembangunan kalangan harus mempertimbangkan lokasi penerbangan.
"Kalau kompetisi, merpati harus mendarat melalui sisi persegi di bagian atas, tidak boleh lewat dari bawah," ungkapnya.
Ilham mengaku punya kenangan tersendiri dengan kalangan. Pasalnya, keunikan kalangan tak hanya dari bentuk, tapi penerapan dalam kompetisi. Keharusan mendarat dari bagian atas sisi kalangan seringkali menyebabkan insiden. Burung merpati tak jarang menabrak tiang kalangan hingga mati. Beberapa kali merpatinya mati akibat menabrak tiang bambu.
Kini, kalangan mulai berevolusi dari segi strukturnya. Tempat untuk "nggabur dara" itu kini dibangun dengan tiang besi. Hampir sama dengan kalangan tradisional, kalangan modern menekankan keselamatan merpati. Sehingga, setiap kalangan dilengkapi dengan busa pengaman. Tujuannya, menghindari luka berat jika merpati menabrak tiang. (gas/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita