Ingin Kenal Diri Sendiri, Rela Keluarkan Modal Rp 40 Juta: Menembus Batas, Tanpa Imbalan Hadiah

Rizky Wahyu Arya Hutama • Dipublikasikan Sabtu, 5 September 2026 | 08:24 WIB
Peserta ultra cycling Danang Giri Sadewa. Dokumen Pribadi
Peserta ultra cycling Danang Giri Sadewa. Dokumen Pribadi

SLEMAN - Mengayuh sepeda melintasi Bentang Jawa jelas bukan perkara mudah. Selain fisik yang digembleng habis-habisan, disiplin ultra cycling ternyata menyajikan realita unik, tidak ada nominal hadiah uang bagi sang pemenang. 

Namun bagi para penggiatnya di Jogja, olahraga ekstrem ini bukan sekadar ajang adu kecepatan, melainkan sarana menguji kemandirian dan daya tahan mental.

Danang Giri Sadewa, salah satu penggowes yang baru saja menyelesaikan event jarak jauh Bentang Jawa, menceritakan petualangannya.  Berawal dari niat menurunkan berat badan pada Agustus 2025, ia justru makin ketagihan menjajal rute-rute ekstrem di atas 200 kilometer.

"Bagi saya ini bentuk tirakat. Saya ingin mengenal diri sendiri dan melihat sejauh mana kemampuan saya. Lagipula kalau tidak ada event seperti ini, malas rasanya mengayuh dari Banten ke Banyuwangi," katanya, Jumat (4/9/2026).

Baca Juga: Tak Kunjung Pulang, Penjaring Ikan Hilang di Pantai Entak Kebumen

Persiapan yang digelontorkan pun tak main-main. Untuk menghadapi medan berat Bentang Jawa, Danang mengaku harus melahap porsi latihan mandiri hingga 400 kilometer per minggu selama empat bulan.  Menariknya, dalam latihan tersebut, Danang mengombinasikan data smartwatch dengan analisis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) sebagai pelatih personal untuk menyusun program latihan dan nutrisi.

Menurutnya, investasi mengikuti ultra cycling itu terbilang tidak sedikit. Itu mulai dari pendaftaran event hingga modifikasi sepeda jenis road bike agar siap melibas jalanan rusak. Namun, ketiadaan hadiah tak sedikit pun melunturkan semangatnya.

"Di luar aku beli piranti-piranti kemarin kan sempat aku bikin kayak konten sampai Rp 40 juta gitu. Itu kan dari awal aku sepedaan beli alat-alat apa saja itu akhirnya Rp 40 juta," cetusnya. 

Baca Juga: Modus Cuci Gamelan, Guru Karawitan di Kulon Progo Cabuli Remaja Laki-Laki

Prinsip senada diutarakan pegowes ultra cycling senior, Syahrizal B Tahir. Menurutnya, daya tarik utama olahraga ini terletak pada filosofi unsupported atau kemandirian penuh di jalanan. Sebab dalam event tersebut ada aturan ketat. Di mana para peserta dilarang menerima bantuan teknis, pasokan logistik pribadi dari tim, atau pengawalan di rute perjalanan.

"Kalau ban bocor di kilometer 150, ya harus diperbaiki sendiri. Bawa ban dalam, cungkilan, dan pompa sendiri. Kami dilatih menyelesaikan masalah kami sendiri di lapangan," tuturnya. 

Pria yang akrab disapa Rizal ini juga mengatakan ultra cycling memberi pelajaran berharga tentang ketangguhan menghadapi hal-hal di luar rencana, mulai dari cuaca buruk, kendala mekanis, hingga kelelahan fisik yang memaksa peserta tidur di emperan toko atau masjid. 

Baca Juga: Prediksi Real Betis vs Real Madrid, Los Blancos Incar Kemenangan di Cartuja

Oleh karena itu, Rizal berharap olahraga ini makin diminati oleh generasi muda sebagai sarana pembentukan karakter yang tangguh.

"Olahraga ini melatih kemandirian. Di lapangan, apa yang sudah kami rencanakan belum tentu sesuai kenyataan. Anak-anak muda sekarang perlu diajak untuk lebih tangguh, tidak hanya nyaman di ruang ber-AC," tandasnya. (ayu/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
Bentang Jawa ultra cycling kenal diri penggowes olahraga ekstrem