JOGJA - Berlari kini tak melulu soal mengejar jarak, pace, maupun personal best (PB). Ada kalanya, berlari justru dilakukan untuk bersenang-senang, mencari suasana baru, atau sekadar melepas penat.
Tren menjajal rute berbentuk hewan seperti kucing hingga anjing pun menjadi salah satu cara menikmati lari di luar target performa.
Bentuk yang dibuat pun beragam. Mulai dari kucing, anjing, hingga lainnya yang terkadang muncul secara tidak sengaja dalam aplikasi Strava. Fenomena itu turut mendapat perhatian dari pelari berpengalaman Dimas Andika.
Tren rute berbentuk hewan lebih tepat dilihat sebagai aktivitas rekreasional dan cara pelari menikmati olahraga, bukan sebagai metode utama untuk meningkatkan performa. Bagi Dimas, fenomena tersebut menjadi salah satu cara mengusir kejenuhan.
Baca Juga: Bukan Sekadar APBD, Anggota DPRD DIY Soroti Pengolahan Sampah Butuh Terobosan Regulasi
"Lari dengan rute hewan itu bisa mengusir rasa bosan. Buat teman-teman yang larinya untuk have fun, untuk rekreasi, mereka lebih puas ketika pakai rute-rute viral," katanya Jumat (7/8/2026).
Dia menilai pelari yang serius mengejar performa tidak menjadikan rute seperti kucing atau anjing sebagai menu utama latihan. Rute semacam itu lebih cocok digunakan untuk aktivitas santai atau recovery.
Di sisi lain, Dimas juga melihat perkembangan tren tersebut tidak bisa dilepaskan dari keberadaan aplikasi seperti Strava dan media sosial. Rute yang sebelumnya hanya terlihat sebagai rekaman aktivitas pribadi kini dapat dibagikan dan menjadi konten.
Menurutnya, kondisi tersebut ikut membuat olahraga lari semakin dekat dengan gaya hidup. Bahkan, orang yang sebelumnya tidak terlalu tertarik berlari bisa terdorong mencoba karena melihat tren rute unik di media sosial.
Baca Juga: Dampingi Peternak Lokal, Mahasiswa Polbangtan Kementan Dukung Ketahanan Pangan
"Olahraga lari itu sekarang menjadi lifestyle. Teman-teman yang dulu mager terus gara-gara ada rute kucing, ada rute anjing, terus mereka ikut nyoba, entah lari entah jalan," ujar yang sudah aktif lari sejak 2017.
Terlebih, salah satu yang cukup menantang dari berlari dengan rute-rute spesifik adalah, kesalahan kecil dalam mengikuti jalur dapat mengubah bentuk yang hendak dibuat.
"Kadang kalau salah sedikit, salah belok saja kan enggak jadi kucing, bentuknya jadi tidak sempurna," terangnya.
Baca Juga: Targetkan Seribu Peserta, Sleman Temple Run Kesebelas Tawarkan Pemandangan Lima Candi
Dengan demikian, tren rute hewan tidak selalu harus dilihat sebagai upaya mengejar capaian olahraga. Bagi sebagian pelari, aktivitas tersebut justru menjadi bentuk kreativitas, hiburan, sekaligus cara membagikan pengalaman berlari kepada orang lain melalui media sosial.
Dimas pun melihat sisi tersebut sebagai sesuatu yang wajar selama tetap ditempatkan sebagai aktivitas bersenang-senang.
"Jadi ya istilahnya buat lucu-lucuan saja sih menurutku kalau kayak gitu, dan itu juga tidak salah," jelasnya.
Baca Juga: Perkuat Silaturahmi dan Beri Solusi Finansial, Gelar Hajatan FIFGROUP Cabang Sleman II
Dengan berbagai pengalaman yang dimiliki, Dimas juga pernah menemukan bentuk unik dari rute larinya sendiri. Namun, bentuk tersebut muncul secara tidak sengaja, bukan karena sejak awal ia merancang rute untuk menghasilkan gambar tertentu.
"Aku asal lari, terus tiba-tiba setelah finish ku lihat Strava-nya bentuknya hampir kayak dinosaurus. Itu pernah. Cuma enggak viral karena enggak saya upload juga," tuturnya.
Berbeda dengan rute yang muncul secara kebetulan tersebut, Dimas mengaku belum pernah sengaja merancang rute untuk membentuk hewan. Ia justru lebih sering mengikuti rute-rute yang sudah lebih dulu ramai di kalangan pelari.
Baca Juga: Dugaan Keracunan MBG Masih Terjadi Berulang di DIY, Disdikpora Fokus Penanganan Siswa dan Evaluasi
Dengan berbagai pengalaman yang dimiliki, Dimas juga pernah menemukan bentuk unik dari rute larinya sendiri. Namun, bentuk tersebut muncul secara tidak sengaja, bukan karena sejak awal ia merancang rute untuk menghasilkan gambar tertentu.
"Aku asal lari, terus tiba-tiba setelah finish ku lihat Strava-nya bentuknya hampir kayak dinosaurus. Itu pernah. Cuma enggak viral karena enggak saya upload juga," tuturnya.
Berbeda dengan rute yang muncul secara kebetulan yakni rute kucing di UGM, Dimas belum pernah sengaja merancang rute untuk membentuk hewan. Ia justru lebih sering mengikuti rute-rute yang sudah lebih dulu ramai di kalangan pelari.
Baca Juga: Dishub DIY Bantah Tudingan Rakitan Becak Listrik 2023 Cacat Produksi, Begini Klaimnya..
Adapun, pengalaman Dimas di dunia lari juga cukup beragam. Ia pernah mengikuti Coast to Coast Night Trail Ultra (CTC) kategori 50K, Siksorogo Lawu Ultra (SLU) kategori 30K, serta sebuah event lari di kawasan Bromo dengan jarak 25 kilometer.
Dari ketiganya, berlari di kawasan Bromo menjadi salah satu event yang paling membekas baginya karena karakter rute dan pemandangan yang ditawarkan. (iza/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita