Lebih Menantang dari Olahraga Lari, Fitness Race Mulai Digandrungi di Jogjakarta

Iwan Nurwanto • Dipublikasikan Minggu, 2 Agustus 2026 | 07:00 WIB
GIGIH: Sesi latihan berfokus pada program hyrox dan hybrid training yang menggabungkan latihan ketahanan (endurance), kekuatan, serta simulasi perlombaan fisik intensif di Rox Gym, Sinduadi, Mlati, Sleman. (GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA)
GIGIH: Sesi latihan berfokus pada program hyrox dan hybrid training yang menggabungkan latihan ketahanan (endurance), kekuatan, serta simulasi perlombaan fisik intensif di Rox Gym, Sinduadi, Mlati, Sleman. (GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA)

RADAR JOGJA - Pecinta kebugaran sekaligus personal trainer gym Reza Akhmad Syafii, mengatakan minat terhadap Hyrox mulai tumbuh di Jogja. Menurutnya, banyak pelari yang mencari tantangan baru setelah merasa kemampuan mereka mulai stagnan.

"Banyak yang sudah bosan atau mentok di kecepatan maksimalnya. Lalu ada Hyrox yang menawarkan tantangan baru," ujar Reza kepada Radar Jogja, Jumat (24/7).

Fitness race pada Hyrox, lanjutnya, menggabungkan lari dengan delapan pos latihan fungsional. Peserta harus berlari sejauh satu kilometer, kemudian menyelesaikan satu jenis latihan kekuatan sebelum kembali berlari. Pola tersebut berulang hingga seluruh delapan stasiun latihan selesai.

Menurut Reza, salah satu daya tarik Hyrox adalah standar kompetisi yang sama di seluruh dunia. Mulai dari urutan latihan, jarak lari, hingga bobot beban dibuat seragam dalam setiap ajang. Baik di Indonesia maupun negara lain seperti Malaysia dan Hong Kong.

Baca Juga: Thom Haye Akui Timor Leste Bikin Timnas Indonesia Kewalahan: Ini Kemenangan yang Sangat Sulit

Standar tersebut membuat peserta dapat mengukur perkembangan kemampuan melalui catatan waktu atau personal record (PR). Setiap peserta memiliki kesempatan untuk terus memperbaiki pencapaian dalam kompetisi berikutnya.

Perkembangan Hyrox di Jogja semakin terasa setelah ajang resmi Hyrox di Jakarta menarik ribuan peserta. Dampaknya, sejumlah pusat kebugaran mulai menyediakan fasilitas dan kelas khusus untuk latihan simulasi Hyrox.

Meski semakin populer, Reza mengingatkan masyarakat agar tidak langsung mengikuti kompetisi tanpa persiapan. Menurutnya, intensitas Hyrox cukup tinggi karena menggabungkan kemampuan lari dan kekuatan fisik dalam satu rangkaian.

Bagi pemula yang sudah memiliki dasar kebugaran dan mampu berlari secara rutin, persiapan ideal membutuhkan waktu sekitar delapan hingga 12 minggu. Sementara bagi masyarakat yang benar-benar memulai dari nol, waktu persiapan disarankan sekitar enam hingga delapan bulan.

Baca Juga: John Herdman Puji Mentalitas Timnas Indonesia dalam Kemenangan atas Timor Leste di ASEAN Championship 2026

Selain latihan, Reza menekankan pentingnya mengetahui kondisi tubuh sebelum mengikuti Hyrox. Pemeriksaan kesehatan atau medical check-up (MCU) disarankan, terutama bagi peserta yang memiliki riwayat cedera atau masalah kesehatan.

"Kalau tidak melakukan MCU resmi, minimal harus memahami riwayat kesehatan dan cedera, serta memantau detak jantung menggunakan smartwatch," jelasnya.

Menurut Reza, persiapan Hyrox tidak hanya membutuhkan kesiapan fisik, tetapi juga biaya. Mulai dari pendaftaran kompetisi, latihan di gym dengan alat khusus, kebutuhan nutrisi, hingga perlengkapan olahraga.

Biaya mengikuti event resmi Hyrox rata-rata mulai dari Rp 2,5 juta. Namun, menurut Reza, investasi tersebut sebanding dengan manfaat yang didapat karena olahraga ini efektif membakar lemak sekaligus membangun massa otot secara seimbang. "Memang tergolong cukup mahal," pungkasnya. (inu/eno)

Editor : Sevtia Eka Novarita
hyrox fitnes race lari Gym Olahraga