Ki Hadi Sugito, Dalang Kondang dengan Seribu Suara; Tak Mau Makan Suguhan dari Tuan Rumah

anom bagakoro • Dipublikasikan Minggu, 9 Agustus 2026 | 05:30 WIB
Ki Hadi Sugito. (Wikipedia)
Ki Hadi Sugito. (Wikipedia)

RADAR JOGJA - Bagi pecinta wayang tradisional, nama Ki Hadi Sugito dirasa tak lekang oleh zaman. Dalang tersohor di era 90-an ini merupakan maestro yang selalu meninggalkan kenangan di setiap pementasannya. Padahal ada ribuan pementasan wayang yang tercatat sepanjang hidupnya.

Cucu Ki Hadi Sugito, Dian Agustika Rahmawati menceritakan sosok kakek sekaligus ayahnya yang selama ini tak banyak diketahui orang. Ki Hadi Sugito lahir pada 1942 di Kalurahan Tayuban, Kapanewon Panjatan, Kulon Progo. Hidup di keluarga seniman dan dalang widi membuat pemahaman terkait seni mulai terbentuk sejak kecil.

"Satu keluarga isinya dalang dan sinden, Eyang Ki Hadi Sugito belajar otodidak," ucap Dian saat dikonfirmasi Radar Jogja, Jumat (31/7).

Ki Hadi Sugito menggeluti dunia pewayangan bukan belajar dari orang lain. Bakat dari ayahnya turun langsung ke dirinya, dan ditempa dengan pembelajaran secara otodidak. Melalui pementasan kecil di tingkat kampung menghantarkan namanya hingga dikenal banyak orang.

Baca Juga: Bang Mike, Fotografer Pemkot Jogja Purnatugas, Pernah Dimarahi PA VIII, Ditendang Paspampres hingga Pipis di Celana

Tahun 90-an menjadi masa kejayaan Ki Hadi Sugito. Hampir setiap malam hari, Ki Hadi Sugito tak pernah bisa ditemui di kediamannya. Pasalnya, setiap malam harus mementaskan wayang di berbagai daerah. Dalam setahun, ratusan pementasan tercatat. Hanya saat Ramdan saja Ki Hadi Sugito libur pementasan.

Kulon Progo dan Gunungkidul menjadi wilayah yang kerap mendapat pementasan Ki Hadi Sugito. Selain itu, pementasan wayang kulit dalang ini juga tercatat di berbagai daerah. Mulai dari Semarang, Jakarta hingga Lampung. "Jarang sekali libur, bahkan kalau mau nanggap harus antre," ungkapnya.

Dikenalnya Ki Hadi Sugito bahkan tak membuat sejumlah penggemar wayang berhenti untuk menyewa jasanya. Walau harus mengantre hingga dua bulan lebih, banyak penggemar yang mau menunggu pementasan Ki Hadi Sugito.

Baca Juga: Klasemen Grup A ASEAN Championship 2026: Indonesia Naik ke Puncak Usai Bungkam Timor Leste

Terkenalnya Ki Hadi Sugito tak lepas dari gaya penampilannya. Ia dikenal sebagai dalang seribu suara. Hampir semua tokoh wayang dalam kisah Mahabarata atau Ramayana memiliki suara yang berbeda-beda jika diperankan Ki Hadi Sugito. "Setiap wayang suaranya beda. Itu yang bisa dikenali penonton," ungkapnya.

Ki Hadi Sugito juga terkenal dalam membawakan lakon carangan. Lakon yang di luar jalur baku kisah Mahabarata dan Ramayana ini dikembangkan secara pribadi oleh Ki Hadi Sugito. Pemikirannya yang out of the box membuat lakon carangan bukan lagi menjadi cerita sampingan bagi para penonton. Justru lakon carangan mampu memiliki nilai tersendiri.

Pembawaan lakon carangan yang berbeda dalam setiap penampilan juga membuat penonton penasaran. Jalan cerita lakon carangan yang dibawa Ki Hadi Sugito kerap ditiru oleh dalang lain di zaman itu.  "Pementasan wayang juga tidak mau aneh-aneh," ungkapnya.

 

Setiap penampilan Ki Hadi Sugito yang mampu memikat banyak penonton, tak lepas dari kesederhanaanya. Di zaman itu, banyak dalang yang menampilkan sinden yang menghadap ke penonton. Tapi dirinya tak meniru hal itu. Lantaran, pentas wayang kulit mengajarkan kisah dan nilai tersendiri terlepas dari hiburannya.

Walau tak seperti pementasan dalang lain, Ki Hadi Sugito tetap mampu menggaet penggemar baru. Menggunakan gaya bahasa yang mudah dipahami orang awam, Ki Hadi Sugito mampu merambah golongan anak muda.

Pembawaan yang lucu juga memperkuat setiap penampilanya. Khususnya saat menampilkan penokohan Punokawan. Ki Hadi Sugito seakan mampu menyatu dengan tokoh sesuai sifatnya. Di balik Punokawan, Ki Hadi Sugito suka dengan tokoh Petruk. Kesukaan terhadap Petruk diwujudkan dengan wayang berbentuk kuciran tidak panjang.

Baca Juga: Bang Mike, Fotografer Pemkot Jogja Purnatugas, Pernah Dimarahi PA VIII, Ditendang Paspampres hingga Pipis di Celana

Ki Hadi Sugito menyukai tokoh Petruk karena sifat humoris, tapi bijaksana. Petruk merupakan tokoh wayang sebagai penengah antara Gareng dan Bagong. Sehingga, memiliki sifat bijaksana dan manut. "Setiap penampilan tidak pernah mau makan suguhan dari tuan rumah," ungkapnya.

Dian menjelaskan, Ki Hadi Sugito memiliki kebiasaan unik selama pementasan. Salah satunya adalah tidak mengonsumsi hidangan dari tuan rumah. Ki Hadi Sugito lebih memilih membawa tremos berisi teh hangat untuk diminum selama pementasan.

Di balik gemerlap setiap penampilan Ki Hadi Sugito, sosok ayah dan kakek itu memiliki kharisma luar biasa. Kharisma itu muncul dari tanggung jawab besar. Tidak hanya tanggung jawab melindungi keluarga, tapi melindungi grup wayang yang dibangunnya. (gas/laz)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
ki hadi sugito penampilan dalang wayang kulit wayang