Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Paksi Raras Alit Kenang Noor WA sebagai Sosok  Ayah yang Disiplin  soal Seni, tapi Demokratis

Adib Lazwar Irkhami • Minggu, 12 Juli 2026 | 08:45 WIB
MENGENANG: Foto-foto Noor WA saat di panggung teater.
MENGENANG: Foto-foto Noor WA saat di panggung teater.

JOGJA - Sosok seniman legendaris Yogyakarta, almarhum Noor WA rupanya tidak hanya meninggalkan rekam jejak emas di panggung teater.
Tetapi juga sebuah warisan kultur yang mengakar kuat di dalam keluarganya. 
Di mata putra bungsunya, Paksi Raras Alit, sang ayah adalah potret seniman tulen yang mendidik anak-anaknya dengan cara disiplin baja cara lama. Namun sangat demokratis dalam pilihan hidup.

Baca Juga: Fasilitas Minim, Komisi IV DPR RI Berencana Bantu Pengembangan Konservasi Penyu Pantai Gua Cemara

Paksi yang kini dikenal luas sebagai sosok musisi dan seniman pertunjukan di Jogja mengaku sangat mengenang bagaimana sang ayah menanamkan fondasi kesenian sejak dini.
Dari empat bersaudara, Paksi menyebut hanya ia yang konsisten melanjutkan estafet di dunia seni profesional seperti ayahnya.
"Perjumpaan kami di bidang seni bisa dibilang sangat dekat, tapi juga sangat sedikit. Dekat karena dari empat bersaudara, cuma saya yang meneruskan. Tapi sedikit karena tahun 2007 bapak meninggal saat usia saya baru 21 tahun. Jadi pas saya menjadikan seni sebagai profesi hidup, wis ora menangi bapak," ucapnya kepada Radar Jogja, Jumat (10/7/2026).

Baca Juga: Bukan Sekadar Lomba Lari, Run'n Shine 2026 Padukan Olahraga, Seni, Musik, dan Kuliner

Meski kebersamaan Paksi bersama ayahnya di fase dewasa terhitung singkat, didikan Noor WA telanjur melekat erat di dalam dirinya. Sebab, sang maestro Teater Jeprik itu, menurut Paksi, menerapkan kultur seni dan kebudayaan Jawa yang sangat kuat di rumah.
Uniknya, semua anak Noor WA, baik laki-laki maupun perempuan, wajib mencicipi gemblengan seni dan bersekolah dasar di Tamansiswa demi memperkuat basis kultural mereka.
"Setiap anak diwajibkan ikut pentas, terutama yang laki-laki. Saya waktu SD sudah ikut teater bapak, ikut manggung. Kakak pertama dan yang cewek-cewek juga digembleng seni. Tapi setelah remaja, yang lain tampaknya mogok dan tidak meneruskan. Cuma saya yang merasa bablas sampai sekarang," bebernya.

Baca Juga: Optimalisasi TPST Modalan Masuk Tahap Lelang, Kapasitas Pengolahan Sampah Ditarget Naik Jadi 60 Ton

Tak hanya itu, Paksi juga menceritakan bagaimana disiplinnya sang ayah saat melatih. Sebagai mentor, Noor WA ternyata merupakan sosok yang perfeksionis. Paksi yang memiliki dasar sebagai penyanyi mengaku ditempa langsung oleh sang ayah secara ketat.
"Diajari nyanyi, kalau fales sedikit langsung diseneni (dimarahi, Red), dilatih terus. Kalau latihan jam empat sore, ya jam empat itu sudah harus mulai latihan, bukan baru datang atau masih di jalan. Betul-betul disiplin cara lawas," lontarnya. 
Akan tetapi, lanjut Paksi, di balik ketegasannya dalam berproses kreatif, Noor WA ternyata adalah sosok ayah yang sangat demokratis di ruang domestik. Paksi menyebut gaya mengajar ayahnya cenderung liberal, karena tidak pernah memaksakan kehendak terkait masa depan anak-anaknya.

Baca Juga: Pesan Herry Zudianto terhadap Pembatasan JLFR: Dirangkul, Beri Sentuhan Seni dan Budaya, Pasti Jadi Daya Tarik Wisata 

Paksi mengungkapkan para anak dari Noor WA bebas memilih sekolah, jurusan kuliah, hingga urusan jam latihan band saat remaja. Semuanya diizinkan tanpa perdebatan, asalkan tahu batasan yang tidak boleh dilanggar.
Tak hanya itu, kebanggaan Noor WA sebagai seniman juga terpancar dari totalitas hidupnya. Paksi mengungkap ayahnya memiliki pedeman jika kesenian adalah prioritas utama dengan segala konsekuensinya.
"Prinsip bapak itu, aku mati neng panggung siap, lho. Tipikal seniman totalitas zaman dulu yang bangga betul dengan jalannya," bebernya. 
​Selain total di panggung, Paksi mengatakan Noor WA adalah seorang pembelajar yang haus ilmu. Sebab, Paksi sendiri mengingat sang ayah baru mengecap bangku kuliah di jurusan teater sekitar tahun 1984 atau 1985.

Baca Juga: Mampu Mengairi Ribuan hektare Lahan Pertanian, Bendungan Jlantah Pekuat Ketahanan Pangan Jateng

"Jadi waktu saya berangkat sekolah, bapak juga berangkat kuliah. Meskipun sepertinya tidak sampai lulus, tapi bapak bisa jadi ensiklopedia berjalan di rumah. Koleksi bukunya banyak sekali, ditanya apa saja bisa menjawab. Hobi membaca itu yang akhirnya nular ke saya," ungkapnya. 
Selain itu, kentalnya spiritualitas Jawa sang ayah pula yang memantapkan langkah Paksi saat memutuskan mengambil kuliah jurusan Sastra Jawa. Sebuah pilihan yang kala itu membuat Noor WA sangat bangga.
Paksi mengungkapkan dalam sebulan terakhir, ia merasa memori dan arsip-arsip tentang sosok Noor WA seolah sengaja berdatangan kembali ke kehidupannya dari berbagai arah. ​

Baca Juga: Mengambil Jeda Lewat Jalan Liar dan Rasan-Rasan, Cara Sederhana Anak Jogja Menolak Asing di Kota Sendiri

Mulai dari kiriman arsip tak terduga dari Taman Budaya Yogyakarta (TBY), obrolan dengan rekan sejawat, hingga adanya seniman yang mengutarakan niat untuk mementaskan kembali karya-karya sang ayah.
"Banyak banget hal yang berkaitan dengan Noor WA datang ke kehidupan saya belakangan ini. Termasuk bertemu Radar Jogja. Mungkin ini tanda saya dikomando sesuatu oleh bapak dari sana. Ya, saya nikmati saja proses spiritual ini," tandas Paksi. (ayu/laz)
Editor : Winda Atika Ira Puspita
#Noor WA #disiplin baja #panggung teater #Demokratis #seniman legendaris