RADAR JOGJA - Kaca patri pernah menjadi salah satu elemen arsitektur yang banyak diminati di Indonesia, terutama era 1990-an hingga awal 2000-an. Selain mempercantik bangunan, kaca patri saat juga menjadi simbol kemapanan pemilik rumah karena biaya pembuatannya yang relatif mahal.
Dosen Seni Kriya dan Desain Mode Kriya Batik ISI Jogjakarta Budi Hartono menjelaskan, popularitas kaca patri tidak terlepas dari pengaruh arsitektur Eropa yang masuk ke Indonesia sejak masa kolonial Belanda. Material itu banyak diterapkan pada gereja, masjid, gedung perkantoran, hingga rumah-rumah bergaya kolonial. "Kaca patri dipakai untuk memperindah ruang dan memberi efek pencahayaan," ujarnya Jumat (3/7).
Menurut Budi, bangunan-bangunan peninggalan Belanda di Jogjakarta masih banyak yang mempertahankan kaca patri, terutama pada jendela maupun bagian atas pintu. Penggunaan kaca patri kemudian berkembang ke rumah-rumah tinggal, khususnya milik masyarakat dengan tingkat ekonomi menengah ke atas.
Proses pembuatannya membutuhkan desain yang rumit. Setiap potongan kaca harus disusun mengikuti pola, lalu disambung menggunakan timbal sehingga biaya produksinya lebih tinggi dibandingkan kaca biasa.
Pada masanya, banyak rumah memadukan kaca patri dengan besi tempa sebagai elemen dekoratif. Di Jogjakarta, dulu sejumlah perajin bahkan bermunculan untuk memenuhi tingginya permintaan pasar.
Namun, tren itu perlahan bergeser seiring berkembangnya desain rumah bergaya minimalis. Masyarakat kini lebih memilih bidang kaca polos yang sederhana, fungsional, dan lebih ekonomis sehingga penggunaan kaca patri semakin berkurang.
Baca Juga: Tabrakan Maut di Thailand: Truk Dikemudikan Anak 11 Tahun, 10 Biksu Tewas
"Generasi sekarang lebih simpel, lebih memilih faktor fungsionalnya dan ekonomis untuk arsitektur rumah," jelasnya.
Meski demikian, Budi menilai kaca patri mulai kembali diminati oleh sebagian masyarakat yang menginginkan hunian berkarakter klasik atau artistik. Kendati demikian, pasarnya masih terbatas karena faktor biaya dan selera desain yang lebih spesifik.
"Sekarang mulai populer kembali kaca patri. Konsumen terbatas pada golongan menengah ke atas," tambah Budi. (cin/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita