Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Diskominfo DIY Kenang Kelompencapir, Program Ikonik Era Orde Baru yang Melekat di Ingatan

Fahmi Fahriza • Sabtu, 27 Juni 2026 | 19:37 WIB
Diorama gambaran momen Presiden Soeharto langsung menyerahkan piala ke Kelompencapir terbaik tingkat nasional di Tapos, Bogor. Instagram @museumpenerangan
Diorama gambaran momen Presiden Soeharto langsung menyerahkan piala ke Kelompencapir terbaik tingkat nasional di Tapos, Bogor. Instagram @museumpenerangan

 

BAGI generasi yang tumbuh pada era 1980-an hingga 1990-an, Kelompencapir bukan sekadar program televisi. Program yang merupakan singkatan dari Kelompok Pendengar, Pembaca, dan Pemirsa itu menjadi salah satu media komunikasi pemerintah yang paling dikenal pada masa Orde Baru.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) DIJ Hari Edi Tri Wahyu Nugroho mengaku masih mengingat kuat program tersebut karena hadir di tengah keterbatasan kanal informasi pada masa itu.

"Kalau saya masih ingat, Kelompencapir itu kan zaman Pak Harto. Saat itu menurut saya sangat ikonik. Karena tiap hari medianya ya TVRI, radio. Itu sangat ikonik sebagai suatu program," ujar Wahyu kepada Radar Jogja, Sabtu (20/6).

Baca Juga: Kelompencapir di Masa Pemerintahann Orde Baru, Jadi Sekolah Lapangan bagi Petani

Menurutnya, Kelompencapir menjadi bagian dari strategi komunikasi pemerintah pusat kala itu untuk menyampaikan berbagai program pembangunan, khususnya yang berkaitan dengan sektor pertanian dan perikanan.

Yang paling ia ingat adalah tayangan dialog antara Presiden Soeharto dengan para petani dan nelayan, yang menjadi sarana penyampaian berbagai kebijakan pemerintah secara langsung kepada masyarakat.

"Ketika Pak Harto ke desa ngumpul dengan para petani dan nelayan dan ada dialog. Itu bagian dari salah satu acara yang sangat dikenal saat itu," katanya.

Ia menjelaskan, popularitas Kelompencapir tidak bisa dilepaskan dari kondisi media pada masa tersebut. Saat itu, masyarakat hanya memiliki sedikit pilihan sumber informasi, terutama TVRI dan RRI sebagai media utama.

"Variasi atau jenis kanal berita hanya seperti itu. Sehingga saat itu ya masif masuk ke masyarakat. Seingat saya itu bagian dari strategi komunikasi presiden waktu itu," ujarnya.

Ia menilai, salah satu tujuan utama Kelompencapir adalah mendukung program swasembada pangan yang menjadi prioritas pemerintah saat itu. "Khususnya swasembada beras. Sehingga itu yang menjadi sasarannya memang petani sama nelayan," ulasnya.

Menurutnya, keberhasilan Indonesia mencapai swasembada beras pada masa tersebut membuat Kelompencapir semakin melekat dalam ingatan publik, bahkan hingga saat ini.

Wahyu meyakini sebagian besar masyarakat yang hidup pada era tersebut pasti mengenal Kelompencapir, karena program itu disiarkan secara rutin dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. "Kalau saya, jelas ingat. Saya cukup yakin generasi yang hidup pada masa itu pasti tahu. Karena memang sangat ikonik," ujarnya.

Baca Juga: Jogja Agro Park Mulai Dikembangkan Secara Serius, Perkuat Mall Pertanian Hingga Menjadi Destinasi Wisata

Selain Kelompencapir, ia juga mengenang sejumlah program televisi pembangunan lainnya yang populer di wilayah DIJ dan Jawa Tengah. Salah satunya program Mbangun Desa yang ditayangkan TVRI.

Program tersebut, kata dia, mengangkat berbagai persoalan masyarakat desa yang dikemas secara ringan dan komedi dengan melibatkan sejumlah seniman Teater Gandrik. "Itu mengemas nuansa-nuansa di pedesaan dengan apik, dengan komedi khas Teater Gandrik,"  katanya.

Meski lahir pada era media konvensional, Hari menilai semangat Kelompencapir masih relevan diterapkan hingga saat ini.

Sebagai kepala Diskominfo DIJ, ia menilai pemerintah tetap membutuhkan ruang komunikasi yang mampu menyampaikan kebijakan secara jelas sekaligus menampung aspirasi masyarakat.

"Menurut saya masih relevan. Pemerintah tetap perlu punya narasi yang sama supaya antarinstansi tidak berbeda-beda," ujarnya.

Ia bahkan menyebut Kementerian Pertanian saat ini telah mengembangkan konsep serupa melalui Kelompencapir Digital yang memanfaatkan teknologi dan media digital untuk menjangkau kelompok tani.

Selain itu, ia melihat semangat yang sama juga hadir dalam Komunitas Informasi Masyarakat (KIM) yang selama ini menjadi mitra pemerintah dalam menyebarluaskan informasi publik.

Baca Juga: Alih Fungsi Lahan Mengancam Pertanian DIY, Data Jadi Dasar Pengambilan Kebijakan: Ini Kata Sekprov DIY

Menurut Hari, model komunikasi saat ini tidak lagi hanya bersifat satu arah maupun dua arah, melainkan telah berkembang menjadi komunikasi multidirectional yang melibatkan masyarakat secara aktif.

"KIM itu tidak hanya pemerintah ke masyarakat dan masyarakat ke pemerintah, tetapi juga masyarakat ke masyarakat. Informasi menjadi nilai tambah di masyarakat," paparnya.

Baginya, meski kanal komunikasi kini jauh lebih beragam dibanding era orde baru dulu, esensi Kelompencapir tetap sama, yakni menjadi wadah berbagi informasi, dan menyampaikan kebijakan publik. "Sekaligus menjembatani kebutuhan masyarakat dengan pemerintah," tambahnya. (iza/laz)

Editor : Herpri Kartun
#Kelompencapir #soeharto #tvri #Petani