Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kelompencapir di Masa Pemerintahann Orde Baru, Jadi Sekolah Lapangan bagi Petani

Naila Nihayah • Sabtu, 27 Juni 2026 | 19:31 WIB
MASA ORDE BARU: Presiden Soeharto dan Ibu Tien saat memanen padi dalam suatu kesempatan. Biasanya setelah acara ini ada program lomba Kelompencapir tingkat nasional yang biasanya disiarkan TVRI. (ISTIMEWA)
MASA ORDE BARU: Presiden Soeharto dan Ibu Tien saat memanen padi dalam suatu kesempatan. Biasanya setelah acara ini ada program lomba Kelompencapir tingkat nasional yang biasanya disiarkan TVRI. (ISTIMEWA)

 

JAUH sebelum maraknya internet dan media sosial, petani di berbagai daerah pernah memiliki satu ruang belajar bersama dari layar kaca. Program Kelompencapir atau akronim dari Kelompok Pendengar, Pembaca, dan Pemirsa menjadi jembatan pengetahuan sekaligus ruang komunikasi antara petani dan pemerintah pada masa Orde Baru.

Bagi Arif Isnanto, petani asal Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang, program itu bukan sekadar tayangan televisi. Program tersebut dinilai bagian dari pengalaman bertani di masa lalu. "Iya, dulu pernah nonton. Bahkan ada ciri khasnya, pakai kentongan sebagai tanda mulai, petani juga pakai seragam adat," ujarnya kepada Radar Jogja, Jumat (19/6).

Arif mengaku, mulai mengenal Kelompencapir sejak lama, seiring aktivitasnya sebagai petani. Meski tidak selalu mengikuti secara rutin, program tersebut cukup sering ia saksikan dan menjadi satu sumber informasi di tengah keterbatasan akses saat itu.

Baca Juga: Alih Fungsi Lahan Mengancam Pertanian DIY, Data Jadi Dasar Pengambilan Kebijakan: Ini Kata Sekprov DIY

Pada masanya, Kelompencapir bukan hanya menampilkan dialog atau lomba antarkelompok tani, tetapi juga menyampaikan berbagai pengetahuan. Mulai dari teknik budi daya, pemilihan bibit unggul, hingga cara mengatasi hama.

Manfaatnya, menurut Arif, memang tidak selalu langsung terasa besar, tetapi tetap memberi tambahan wawasan. "Ya sedikit banyak bisa membantu. Setidaknya jadi tahu cara-cara baru bertani," bebernya.

Dia mencontohkan, setelah mengikuti program itu, ada perubahan cara pandang dalam mengelola lahan. Petani menjadi lebih terbuka terhadap penggunaan pupuk yang tepat, pengaturan pola tanam, hingga pentingnya kebersamaan dalam kelompok tani.

Dalam hal pemahaman teknologi pertanian, Kelompencapir dinilai cukup membantu. Program itu menjadi semacam 'penyuluhan jarak jauh' yang menjangkau petani hingga pelosok desa.

Arif menyebut, peran penyuluh pertanian juga tidak terpisahkan dari program ini. Mereka menjadi penghubung antara informasi yang disampaikan di televisi dengan praktik di lapangan.

"Biasanya setelah ada program itu, penyuluh juga menjelaskan lagi ke petani. Jadi lebih paham," sebutnya.

Menurut Arif, masyarakat pada masa itu memandang Kelompencapir sebagai program yang positif dan membanggakan. Apalagi jika ada kelompok tani dari daerahnya yang tampil, hal itu menjadi kebanggaan tersendiri. "Dulu kalau ada yang tampil di TVRI itu senang sekali. Rasanya seperti mewakili daerah," paparnya.

Meski demikian, perkembangan zaman membuat pola penyebaran informasi berubah. Arif mengakui, saat ini media sosial dan internet jauh lebih cepat dan praktis dalam memberikan informasi kepada petani. "Sekarang jelas lebih membantu. Tinggal cari di HP, langsung dapat," tambahnya.

Baca Juga: Tinjau Teknologi Tanam PM-AAS, Presiden Prabowo Sebut Inovasi Pertanian Revolusioner

Namun, dia menilai, bukan berarti konsep seperti Kelompencapir tidak relevan lagi. Program serupa masih bisa dihadirkan, dengan penyesuaian terhadap kebutuhan zaman. Sebab dalam Kelompencapir, informasi yang diberikan kadang terlalu umum dan diskusi tidak selalu dua arah atau mendalam. Serta lebih menekankan keberhasilan program pemerintah daripada realita di lapangan.

Menurutnya, jika dihidupkan kembali, program tersebut perlu lebih interaktif, tidak sekadar satu arah, dan mampu menjawab persoalan nyata yang dihadapi petani saat ini. "Kalau ada lagi, mungkin harus lebih modern, bisa tanya langsung, dan bahas masalah yang benar-benar terjadi di lapangan," ucap dia.

Arif juga berharap, ke depan penyebaran informasi pertanian bisa semakin merata, tidak hanya cepat tetapi juga tepat sasaran. "Harapannya, petani bisa terus mendapat informasi yang jelas dan mudah dipahami, supaya hasil pertanian juga bisa lebih baik," harapnya. (aya/laz)

Editor : Herpri Kartun
#Kelompencapir #soeharto #tvri #Petani