Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Ungkap Suasana Hati lewat Pilihan Lagu; Gitaris Patub Sebut Letto Jadi Kelinci Percobaan Era Kejayaan NSP Tahun 2000-an

Rizky Wahyu • Minggu, 14 Juni 2026 | 07:00 WIB
Gitaris Letto Agus Riyono atau yang akrab disapa Patub. (Rizky Wahyu/Radar Jogja)
Gitaris Letto Agus Riyono atau yang akrab disapa Patub. (Rizky Wahyu/Radar Jogja)

 RADAR JOGJA - Ada cerita menarik dari sudut pandang para musisi yang karyanya laris manis diadopsi oleh Nada Sambung Pribadi (NSP) di era tahun 2000-an silam. Salah satunya adalah band asal Jogja, Letto.

Gitaris Letto Agus Riyono menjelaskan, kehadiran NSP di masa lalu merupakan terobosan luar biasa dalam industri musik tanah air. Pada era di mana distribusi fisik seperti kaset dan CD masih dominan serta kiblat promosi terpusat di Jakarta, NSP hadir dan dapat memutus sekat itu.

"Itu seperti kalau kami dulu beli kaset atau CD, tiba-tiba sekarang ada Spotify atau digital. Dari sudut pandang teknologi, itu terobosan," ucap Agus saat ditemui Radar Jogja di Syini Kopi, Kadipiro, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Jumat (5/6) siang.

Baca Juga: Sembilan SD Negeri Bakal Digabung, Disdik Gunungkidul Pertimbangkan Kondisi Siswa dan Guru

Bagi Agus, esensi dari NSP sebenarnya melampaui sekadar urusan bisnis digital. NSP berhasil menciptakan ruang personal yang menjembatani perasaan pendengar dengan lagu yang mereka sukai.

"Makanya disematkan ke dalam Nada Sambung Pribadi. Seperti bilang, iki lho saiki suasana hatiku koyo lagu iki' (Ini lho sekarang suasana hatiku seperti lagu ini)," ungkapnya.

Sebagai pelaku seni, pria yang akrab disapa Patub ini mengakui dulu bandnya tidak pernah mempersoalkan komersialisasi lagu ke dalam berbagai format, termasuk NSP maupun latar musik (backsound) sinetron.

Pihaknya malah menyambut baik hal itu. Sebab, menurutnya, tugas musisi adalah berkarya di dapur rekaman, sedangkan urusan penjualan diserahkan kepada ahlinya.

Baca Juga: Penggunaan QRIS Tumbuh 62,19 Persen, Jadi Indikator Menguatnya Digitalisasi Ekonomi di DIY

"Karena kami kan bukan ahlinya menjual. Kami kan ahlinya memasak. Menjual itu memang urusan marketing. Monggo arep didol ngopo wae (silakan mau dijual jadi apa saja), yang penting jualannya pakai adab dan hitung-hitungan ekonomi yang benar serta adil," bebernya.

Patub mengatakan dulu dari setiap produk turunan lagu, termasuk NSP, musisi tetap mendapatkan haknya berupa royalti. Walau diakuinya, persentase pembagiannya melibatkan banyak pihak, mulai operator seluler hingga label rekaman.

Menariknya, Letto ternyata memiliki kedekatan historis yang cukup intim dengan perkembangan teknologi musik di Indonesia. Ia mengungkapkan, band yang melejit lewat lagu Ruang Rindu dan Sebelum Cahaya itu sebagai salah satu pelopor yang kerap menjadi kelinci percobaan dalam berbagai format rilisan baru.

"Bahkan Letto itu kalau tidak salah, salah satu artis yang lagunya menjadi perintis atau dalam tanda petik, kelinci percobaan dalam banyak hal. Satu, ya NSP itu. Letto salah satu band yang kali pertama dijadikan kelinci percobaan. Terus lagu yang dijadikan backsound sinetron, itu juga," sebutnya.

Tak hanya sampai di situ saja, menurut Patub, hubungan istimewa Letto dengan teknologi bahkan sempat mengantarkan mereka menyabet penghargaan bergengsi dalam ajang AMI Awards untuk kategori NSP.

Walaupun kini, era NSP memang telah meredup seiring bergesernya tren ke arah streaming digital. Namun bagi Patub, hal itu adalah siklus wajar dari sebuah inovasi.

"Ya, teknologi kan berkembang. NSP tidak ada, ditemukan teknologi lain. Ternyata sekarang jualan lagu lewat digital, bisa Spotify. Ternyata sekarang setiap musisi punya kanal pribadi lewat YouTube dan medsos. Ya, satu teknologi mati, seribu teknologi lahir. Gitu aja sih," sebutnya. (ayu/laz)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#Nada Sambung Pribadi (NSP) #nsp #Letto #Musik #musisi