Baca Juga: Dokter Sebut Jalan tanpa Alas Kaki Lebih Menyehatkan, tapi Tidak Dianjurkan untuk Penderita Diabes
Menurut dia, kejurda kala itu menjadi panggung bergengsi bagi pembalap daerah. Para rider dari berbagai kabupaten dan kota menjadikan ajang tersebut sebagai target utama. Berbeda dengan sekarang yang orientasinya sudah menembus level nasional, Asia atau bahkan melangkah lebih jauh ke tingkat internasional.
Perubahan besar juga terlihat dari sisi teknologi kendaraan. Di masa itu, kata dia, motor harian cukup dimodifikasi ringan untuk bisa turun balapan. Bahkan hanya mengganti knalpot racing sudah dianggap layak bertanding.
"Kalau dulu motor jalanan dimodifikasi sedikit sudah bisa balapan. Sekarang regulasinya jauh lebih ketat dan teknologi motor berkembang pesat,” katanya.
Baca Juga: Tanpa Beban di SSA Bantul, PSIM Jogja Berpeluang Jadi Penentu Nasib Madura United dalam Klasemen
Motor-motor dua tak seperti Yamaha F1ZR hingga Tornado menjadi primadona anak muda kala itu. Selain dipakai harian, kendaraan tersebut juga digunakan untuk balapan. Sensasi suara knalpot racing dua tak dan kemampuan motor melompat di tikungan menjadi ciri khas road race era tersebut.
Tak hanya motor, perlengkapan keselamatan pembalap pun masih sangat sederhana. Sepatu, celana jeans panjang, jaket, sarung tangan dan helm menjadi perlengkapan standar yang lazim dipakai pembalap saat itu.
“Dulu ya modal sepatu, celana jeans, jaket sama helm sudah balapan. Lecet-lecet karena jatuh itu biasa,” kenangnya.
Di tengah keterbatasan fasilitas, para pembalap muda Gunungkidul memilih membuat sirkuit dadakan untuk latihan secara mandiri. Terminal Baleharjo menjadi salah satu lokasi latihan paling ikonik pada era 1990-an hingga 2018-an.
Baca Juga: Modal Rp 50 Ribu, Sapi “Bagong” dari Nglipar Dibeli Presiden Rp 100 Juta untuk Kurban Idul Adha
Area terminal, sambut dia, luas dan beraspal, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai lintasan dadakan setelah mendapat izin pengelola terminal. “Yang penting tidak dipakai balapan liar di jalan raya. Jadi dulu justru didukung untuk latihan,” ujarnya.
Dari sirkuit sederhana itu, lahir banyak pembalap daerah yang kemudian berkembang ke level nasional, bahkan internasional. Sudarmono menyebut, dirinya bersama tiga pembalap lain dari Gunungkidul pernah menembus Asia Talent Cup.
Saat Terminal Baleharjo tidak lagi difungsikan, latihan berpindah ke Pasar Hewan Siyono pada 2018. Di lokasi itu, Sudarmono memulai kembali latihan bersama putranya, Veda Ega Pratama.
Kendati awalnya hanya dua orang yang berlatih di lintasan dadakan itu. Namun, dari tempat sederhana itu, Veda kemudian berkembang hingga tampil di berbagai ajang internasional.
Baca Juga: PSS Sleman Berhasil Amankan Lisensi Super League, Lolos dan Berhak Sandang Status Granted
“Kalau mental dan feeling balap itu justru banyak terbentuk dari sirkuit dadakan di Siyono. Veda 100 persen terbentuk di situ,” katanya.
Ia menjelaskan, pola latihan di lintasan sempit justru melatih insting dan kepekaan pembalap. Layout sirkuit diubah-ubah untuk melatih teknik menikung kiri, kanan, memutar, hingga penguasaan tikungan besar.
“Ketika sudah di sirkuit besar atau internasional tinggal mengembangkan saja. Dasar tekniknya justru dibentuk dari latihan di tempat terbatas,” tambahnya.
Baca Juga: Tanpa Beban di SSA Bantul, PSIM Jogja Berpeluang Jadi Penentu Nasib Madura United dalam Klasemen
Bagi Sudarmono, keberadaan sirkuit dadakan bukan sekadar keterpaksaan akibat minim fasilitas. Lebih dari itu, menjadi simbol semangat belajar dan berkembang di tengah keterbatasan.
“Membangun sirkuit dadakan itu murni inisiatif sendiri. Ada tempat potensial, kami minta izin, lalu latihan. Semua berawal karena ingin belajar dan berkembang,” tandasnya. (bas/laz)
Editor : Winda Atika Ira Puspita