Kios Jamu Memiliki Sisi Positif dan Negatif; Bahayanya jika Campur Jamu dengan Obat Kimia
Adib Lazwar Irkhami• Minggu, 3 Mei 2026 | 10:00 WIB
Suasana pembuatan jamu. Dokumen Seruni.
JOGJA - Keberadaan kios atau depot jamu dipandang sebagai sinyal positif kembalinya masyarakat ke pola hidup sehat melalui pengobatan tradisional. Namun di balik pertumbuhan itu, standardisasi dan edukasi penyajian jamu menjadi catatan penting bagi para pelaku usaha.Koordinator Jamu Gendong Gabungan Pengusaha (GP) Jamu Sutrisno mengatakan, kehadiran depot jamu sebenarnya sangat membantu masyarakat. Terutama yang beroperasi hingga malam hari.
Dengan adanya kios yang buka hingga larut malam, dapat membantu masyarakat yang tidak sempat bertemu penjual jamu gendong di pagi hari. "Ini juga menggerakkan ekonomi UMKM kami," jelasnya, Jumat (24/4/2026).Selain itu, lanjut Sutrisno, keberadaan depot jamu merupakan langkah maju untuk mendekatkan pengobatan tradisional ke masyarakat. Maka dari itu, dengan adanya kios jamu, berarti banyak orang yang kembali ke pengobatan tradisional.
Namun, menurut pria yang juga menjabat Ketua Desa Wisata Jamu Kiringan, Bantul ini, meski memiliki sisi positif, depot jamu juga memiliki sisi negatif. Sebab, tak jarang para pemilik kios atau pengelola depot yang nekat mencampur jamu tradisional dengan obat-obatan kimia.Sutrisno sendiri mengaku pernah menemui depot yang menambahkan pil pengurang rasa sakit ke dalam jamu pegal linu. "Ini tidak benar. Jika zat kimia bertemu temulawak, efeknya bisa berbahaya bagi liver. Niatnya mengobati, malah menambah penyakit lain," ungkapnya.
Sementara, Ketua Paguyuban Jamu Seruni Putih Murjiati menjelaskan, selain merupakan tempat untuk menjual jamu, depot atau kios juga dapat difungsikan untuk membuat ramuan jamu.
"Jadi tempat itu sangat efektif untuk para penjual jamu sebenarnya," tandasnya. (ayu/laz)