Baca Juga: Kenaikan Harga BBM Non-subsidi Ancam Operasional Bus Sekolah Gratis di Gunungkidul
Baca Juga: Pemkab Kebumen Disebut Gagal Mitigasi Lakalaut, DPRD Dorong Evaluasi Total Pengelolaan Pariwisata
Di awal 90-an, pola konsumsi jamu masyarakat mulai berubah. Lantaran munculnya berbagai depot atau kios jamu. Depot jamu tak seperti warung jamu pada umumnya. Warung jamu biasanya menyediakan jamu racikan dari bahan utama. Namun depot jamu memberikan sisi kepraktisan.
Depot jamu biasanya menyajikan jamu seduh yang lebih mengusung sisi praktis. Kemunculan depot jamu merupakan tanda perkembangan jamu siap santap yang dikembang secara modern oleh beberapa perusahaan.
"Depot jamu biasanya menyediakan jamu seduh. Jadi berbeda dengan warung jamu," ungkapnya.
Sebagai pelanggan setia, depot jamu menyediakan beragam jamu yang menjawab persoalan tubuh. Mulai dari kelelahan fisik hingga sakit yang dirasakan tubuh, dapat diobati dengan jamu seduh.
Salah jamu andalannya adalah jamu seduh serbuk super buatan Madura. Jamu dengan bungkus kertas merah dan berwarna coklat saat diseduh itu, memiliki khasiat menjaga kondisi tubuh.
Bisa dibilang jamu ini hampir tersedia di beberapa depot jamu.
Baca Juga: Pilur Serentak Mulai Akhir Mei, Pengaruh Trah Masih Kuat di 31 Kalurahan Wilayah Gunungkidul
Kenangannya, tak hanya berkaitan dengan jenis merk jamu. Penyajian depot jamu menjadi kenangan tersendiri. Pasalnya, depot jamu menyajikan kecepatan tanpa meninggalkan rasa jamu. Penyajian jamu biasanya dengan cara diseduh air panas.
Beberapa jamu kerap ditambah dengan madu. Termasuk penggunaan racikan tertentu yang biasanya diketahui pemilik depot. Jamu seduh bisa dicampur pil, telur, hingga madu untuk menambahkan khasiat. Hal inilah yang menjadi identitas depot jamu. (gas/laz)
Editor : Winda Atika Ira Puspita